Tag Archives: batumulia

“Mengkaryakan ‘limbah’ Batumulia”

This slideshow requires JavaScript.

Disinilah tempat berlian trisakti Indonesia ditemukan, berlian yang tersohor dan yang keberadaannya sudah tidak diketahui lagi saat ini. Lokasi ini berada di Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Banjar (sekarang Kota Banjarbaru), Kalimantan Selatan. Pendulangan Intan dilokasi ini sudah tidak dilakukan lagi, entah karena memang sudah tidak memiliki konsentrasi deposit berlian, atau memang ada larangan dari pemerintah.

Suatu hal yang membuat takjub adalah dimana tempat kami berdiri dan seluas mata memandang ini, danau dipenuhi dengan mineral Quartz, Quartzite, Agate, Jasper, dan mungkin ada beberapa mineral lainnya lagi. ‘Limbah’ adalah kata yang terlontar dari penduduk lokal, semua mineral yang terlihat semata luas memandang ini mereka sebut limbah dari pendulangan berlian.

Gratis dan tinggal kirim ke Jakarta, ini yang sempat terfikir saat ramai-ramainya pasar batumulia nusantara waktu itu. Mungkin sepuluh ribu perak perbuah bisa laku dengan cepat, sedangkan modalnya hanya logistik.

6 Bulan setelah kunjungan pertama, ‘limbah-limbah’ ini sudah mulai ada yang ‘melirik’ untuk digunakan sebagai ubin, bahkan  dinding rumah.

Bisa mereka berikan pewarnaan atas kesukaan atau pesanan pelanggan, ini biasanya yang berbahan Jasper. Sedangkan yang berbahan Quartzite (pouros-berpori-pori) bisa mereka rendam dengan zat pewarna (Dyed method), biasanya warna hijau untuk ‘pengganti’ batu Jade, Bacan, dan batuan hijau lainnya.

Selain metode diatas, sebenarnya mineral-mineral tersebut juga memiliki ‘tingkat kekerasan’ di sekitar angka 6-6.5 mohscale (Quartz dan Chalcedony) sehingga ada metode lain, yaitu, dengan menumbuknya sehingga bisa menjadi bubuk pemoles. Tentu bahan dasar wajib diseleksi dengan ketat, dikarenakan kemungkinan adanya mineral lain dengan tingkat kekerasan yang berbeda, yang akhirnya bercampur, sehingga bisa mengurangi kualitas dari produk yang akan anda ciptakan nantinya.

This slideshow requires JavaScript.

Banten

Ketika berada di tambang Opal Cirarang Banten, Jawa Barat. Ketika ada aktifitas di dalam tambang, diatas tambang juga aktifitas, selain menjaga kami, mereka juga ada yang mengetukkan batu batu keras yang berada dipinggir tambang. “Rencekan……..”,  sebut mereka,-Potongan-potongan kecil yang didapat ketika batu keras terbelah.

Opal-Opal kecil yang mereka temukan, dan Opal-Opal Indah tersebut dapat mereka potong dan poles, lalu digunakan sebagai “Perhiasan”. Metode “composite” dapat menjadi salah satunya, namun kombinasi antara cincin yang terbuat dari tanduk sebuah Kerbau terlihat menarik. Potongan-potongan berbentuk kotak dari Opal tersebut terpasang berbaris di cincin yang terbuat dari tanduk kerbau.

Bangkalan, Madura

Memang jarang dapat menemukan bahan ‘sisik ular jiphen’ dalam diameter yang besar, biasanya mereka temukan dalam ukuran-ukuran kecil sehingga sulit untuk dijadikan batu cincin. Metode composite juga mereka lakukan agar bisa dibentuk sebagai perhiasan maupun cinderemata lainnya. Contoh pipa di bawah adalah salah satunya dan merupakan hadiah kebanggan atas kunjungan kami disana.

Burma

Sekitar awal tahun 2000an ketika bepergian ke Burma yang sekarang kita kenal dengan Myanmar, ada sebuah karya lukisan manusia yang berasal dari potongan-potongan kecil mineral Korundum. Di sketsa terlebih dahulu, lalu ditabur dengan butiran batu, ada yang berwarna merah, hijau, kuning dan warna lainnya, entah Korundum atau bercampur dengan mineral lainnya.

Konklusi

Sebenarnya masih banyak metode-metode lain untuk mengkaryakan “hasil limbah dari tambang batu” sehingga potongan-potongan kecil dari sebuah mineral tidak terbuang begitu saja. Banyaknya mineral, banyaknya metode, dan banyaknya cara bagaimana agar bisa dipasarkan dengan mudah, tentu dengan kualitas yang terjaga.

Sebenarnya jika hal-hal diatas mau kita kerjakan, maka dapat membuka peluang kerja yang sangat besar sekali. Selama kita menjaga kualitas dan mau ‘bekerja-sama’ dengan pemerintah dalam pemasarannya, saya yakin hal diatas bukanlah “rumus” yang boleh dianggap remeh.

Terima kasih
Jesse Taslim

Photo by: Jesse Taslim, Ashari Odon, & Google
DSC_0019_Fotor

Advertisements

Dilema pasar batumulia Indonesia

Memang salah satu sifat dari sebuah penemuan baru akan sebuah treatment pada batumulia adalah “rahasia”. Selama mungkin, memang jika masih tertutup, maka keuntungannya akan lebih banyak lagi yang didapat.

Namun ketika dunia mulai mengetahuinya, mereka (contohnya treater Thailand) tidak tinggal diam dan merenungi akan kebocoran hal ini. Mereka mulai merubah pola fikirnya, mereka mulai berganti strategi, bagaimana caranya, agar treatment baru ini bisa diterima oleh masyarakat dunia internasional pada umumnya.

Bukankah sebuah treatment biasanya dilakukan memang bertujuan untuk menstabilkan dan memperindah sebuah batumulia?

Contohnya Ruby yang memiliki banyak retakan, bisa ditutupi dengan treatment borax maupun glassfilled, Brown dan Green Sapphire dengan saturasi warna yang rendah bisa diperbaiki dengan treatment beryllium, Topaz putih yang menjadi biru dengan treatment radiasi, Opal berwarna pucat menjadi Black Opal dengan sugar dan smoke treatment, dan banyak lagi lainnya.

Sebenarnya kita tidak kalah oleh mereka, kita adalah yang pertama kali menemukan cara membuat Cat’s eye Chrysoberyl yang berwarna hijau menjadi Coklat dengan treatment radiasi, Agate dan jasper yang tidak bermotif bisa menjadi bermotif, Chrysocolla in Chalcedony yang katanya bisa dibuat lebih transparant, Agate yang bisa menghadirkan ‘fenomena’ atau Petrified Wood dan Boulder Opal kita yang katanya memang bisa diperindah dengan suatu treatment dan banyak lagi treatment lainnya.

Kita seharusnya bangga dengan apa yang kita temukan, bukankah sama dengan mereka?, Kita juga telah menemukan bagaimana caranya agar dapat menciptakan suatu batumulia yang kurang stabil dan kurang indah menjadi sebaliknya. Selama hal ini di tutupi, maka efeknya adalah kecurigaan antara penjual dan pembeli, domestik maupun Internasional.

Salah satu contoh terbaik adalah kota Chantaburi Thailand sebagai pusat treatment dunia. Ketika benua asia terkena krisis keuangan, mereka tidak begitu bermasalah dikarenakan banyak pembelinya yang datang dari negara-negara yang tidak terkena krisis karena, treatment-treatment yang sudah mereka ciptakan, pada akhirnya telah di terima oleh dunia Internasional. Bahkan kita menjadi salah satu negara konsumen terbesarnya. Mengapa glassfilled, berylium, coating, dyed, dan bahkan sintetik, imitasi, juga kaca buatan pabrik  mereka bisa kita terima, namun treatment yang kita ciptakan tidak/belum di terima oleh mereka sepenuhnya?, coba tanyakan pada diri kita sendiri, bukankah kejujuran itu menepis kecurigaan?, kapan mereka (pembeli luar negeri) akan merasa aman ketika berbelanja kepada kita, jika kita masih setengah-setengah dalam kejujuran ketika menjajakan batumulianya.

“Kejujuran produsen pasti  menghadirkan konsumen berkualitas”

Terima kasih
Jesse Taslim

Skala kejernihan Batumulia

Sebenarnya, standarisasi gradasi kejernihan atau warna di batumulia (selain berlian) itu belum bersifat umum, tapi kita bisa mengikuti bagaimana cara mereka melakukan hal ini di berlian, walaupun kemungkinan terjadi perbedaan yang signifikan. Warna (color), clarity (kejernihan), cut (potongan), dan weight (berat) adalah faktor utama pada berlian, sedangkan di batumulia, warna merupakan faktor utama, penilaiannya bisa mencapai 60-70%, tentu tanpa melupakan faktor lainnya seperti tingkat kejernihan yang masih bisa di toleransikan pada batumulia, tapi tidak pada berlian.

Tingkat kejernihan juga merupakan suatu hal yang penting pada batumulia, tapi standarisasinya berbeda. Menerapkan standar gradasi kejernihan berlian pada batumulia adalah suatu kesalahan, dan dapat membuat kita banyak melewatkan batumulia yang bagus.

Standarisasi tingkat kejernihan pada batumulia itu tergantung tipe-tipenya. Sejak batumulia hadir dengan berbagai macam jenis, GIA (Gemological Institute of America) mengklasifikasikan batumulia dengan ‘type 1’, ‘type 2’, dan ‘type 3′.

Type 1-Batumulia pada tipe ini biasanya bebas dari inklusi. Kemungkinan pada kualitas terbaik dari tipe ini, kita hanya dapat menemukan inklusi kecil yang hanya terlihat dengan handloupe 10x. Jadi ketika menyeleksi batumulia pada tipe ini kita dapat mengharapkan hampir bersih dari inklusi di handloupe. Batumulia pada tipe ini adalah-Aquamarine, Morganite, Yellow Beryl, Chrysoberyl, Kunzite, Danburite, Smoky Quartz, Blue Topaz, Blue Zircon, White Zircon, and Tanzanite.

Type 2- Batumulia pada tipe ini bisa ditemukan inklusi tapi bisa terlihat bersih jika dengan kasat mata (eye clean). Batumulia pada tipe ini adalah- Apatite, Alexandrite, Corundum, Diopside, Fluorite, Garnet, Iolite, Peridot, Quartz (hampir keseluruhan variannya), Spinel, Tourmaline (hampir keseluruhan kecuali green, Rubellite, dan Watermelon) dan Natural Zircon (kecuali warna biru)

Type 3- Batumulia pada tipe ini selau ditemukan dengan inklusi yang signifikan, bahkan untuk kualitas yang tertingginya sekalipun. Batumulia pada tipe ini adalah-Emerald, Red Beryl, Idocrase, Kyanite, Prehnite, Sphalerite, Sphene, dan Tourmaline-Rubellite-Watermelon.

Beberapa dealer batumulia menggunakan istilah VVS dan VS untuk gradasi batumulianya. Dikarenakan ini adalah istilah yang bersangkutan dengan gradasi berlian, menurut kami hal ini tidak terlalu tepat dan juga dapat membingungkan pelanggan yang memang jarang dari mereka faham akan istilah-istilah ini. Cara yang terbaik adalah menggunakan cara  gradasi kejernihan sesuai fungsinya, dimana batumulia dinilai dengan-bisa terlihatnya inklusi dengan kasat mata atau dengan loupe (kaca pembesar) 10x. Kita bisa menggunakan istilah “loupe clean”, “almost loupe clean”, “eye clean’, very slightly included”, dan seterusnya.

Dan akhirnya, untuk Batumulia yang berbentuk cabochon di gradasi dengan terminologi yang berbeda, cara terbaik adalah dengan memberikan istilah-“transparent” (tembus cahaya) tidak terlihatnya inklusi, lalu “translucent” (tembus cahaya tapi tidak transparan) dan yang terakhir adalah “opaque” (tidak tembus cahaya sama sekali). Batumulia dengan tingkat kejernihan “translucent” contohnya seperti Chrysocolla in Chalcedony dan Chrysoprase dan “opaque” contohnya seperi Jasper, Shell, dan lainnya.

Faceted
IF-Loupe clean-Internally flawless; bebas dari inklusi.
VVS-Almost loupe clean-very, very slight inclusions; inklusi hampir tidak terlihat dengan pembesaran 10x.
VS-Eye clean-very slight inclusion; sedikit inklusi bisa terlihat dengan mata yang terlatih atau dengan pembesaran 10x.
SI-Slightly included-inklusi kecil dapat terlihat dengan kasat mata
I1-Included-inklusi terlihat dengan jelas

Cabochon
Tranparent-Tembus cahaya, bisa memiliki inklusi seperti rutile dan lainnya.
Translucent-Tembus cahaya tapi tidak transparan
Opaque-Tidak tembus cahaya sama sekali.

Terima kasih

Jesse Taslim

kontes batumulia di Indonesia

Kontes batumulia mungkin tidak jauh berbeda dengan kontes burung, ikan maupun kontes lainnya. Tapi kontes terakhir yang kudatangi (juga tidak berbeda dengan kontes kontes yang kudatangi sebelumnya), mengingatkan kepada sebuah game yang paling kugemari, yaitu Sam kok atau dengan nama lainnya Romance of three kingdom (strategy/RPG).

Tidak berbeda dengan gamenya, dikontes juga bertebaran jendral-jendral seperti Cao-Cao, Liu Bei, Yuan Shu, Ma-Teng, Sun Jian, Dong Zhuo, Gongsun Zan, Lu Bu, Zang Lu, dan lainnya. Ada jendral yang berusaha memasuki ‘pemerintahan’, juga Jendral yang kebingungan melihat situasi baru, dan tidak luput jendral yang pulang sebelum masa peperangan berakhir.

Tapi yang lebih menarik adalah adanya manusia manusia nomaden, yang sering mengikuti kontes-kontes di beberapa kota berbeda dengan niat untuk menambah pemasukan keluarganya, memperkenalkan barang dagangannya, lalu juga mengikuti kontes dan mengharapkan menjadi pemenang, dan juga tidak lupa, ada yang sedang menunggu mangsa-mangsa barunya.

Dengan penyelenggara yang berbeda dan tentu dengan juri yang berbeda pula, sehingga kesempatan menjadi pemenang pun semakin besar. Dengan menjadi pemenang tentu nilai batumulianya bisa bertambah berkali-kali lipat.

Bangsa nomaden yang katanya sudah hampir punah, sekarang sudah berganti baju. Dulu yang menggunakan unta dan kuda serta tinggal di dalam tenda, sekarang sudah menggunakan pesawat, mobil dan tinggal di hotel. Mereka saling kenal dan faham satu sama lain, namun yang pasti mereka tidak memiliki sebuah wadah pemersatu sehingga sangat mudah sekali diboncengi oleh mereka yang memang tidak pantas diberi gelar jendral.

Paling tidak, dengan adanya wadah pemersatu neo-nomaden (boleh jika kita sebut mereka sebagai ini), keuntungan yang didapat akan lebih banyak lagi. Tidak sedikit dari mereka yang merasa dikecewakan oleh kontes-kontes yang mereka ikuti. Contohnya seperti penipuan yang dilakukan penyelenggara sehingga tidak terlaksananya kontes tapi biaya sudah dikeluarkan, lalu keuntungan lainnya adalah menyeleksi juri kontes, juri yang sudah dikenal pernah ‘cacat’ maka otomatis tidak akan dipanggil lagi oleh penyelenggara atas permintaan neo-nomaden, dan juga dapat melindungi mereka dari beberapa neo-nomaden lainnya yang ‘nakal’ seperti menutup pembeli untuk tidak ke tempat peserta lainnya, menjatuhkan batumulia dagangan peserta lain, bahkan tidak jarang saya dengar dari beberapa orang bahwa ada yang berani menjual barang-barang palsu (tentu mengakunya tidak palsu) dengan harga yang tinggi.

Hanya dikarenakan memiliki skill marketing, yang sebenarnya ini adalah penipuan yang dirubah menjadi peluang. Tentu hal ini jika dibiarkan akan membuat tamu pendatang kontes menjadi trauma dan akan merugikan peserta kontes lainnya, secara langsung maupun tidak langsung.

Saya rasa, penyelenggara-penyelenggara kontes batumulia yang baru akan terus bermunculan dan neo-nomaden yang baru juga akan lahir terus-menerus. Dengan adanya wadah pemersatu, mereka bisa saling mengenal, menjaga satu sama lain, dan saling menghormati, sehingga peserta, juri, dan penyelenggara akan berfikir dua kali untuk melakukan hal yang tidak baik.

Namanya juga kontes, pasti minim pendidikan, pasti yang dikedepankan adalah perlombaan, tidak ada yang salah dalam hal ini, karena namanya juga kontes, bukan pameran dan pendidikan batumulia. Namun sifatnya hanya akan mendidik manusia Indonesia untuk menjadi pedagang, bukan ilmuwan. Tentu dengan adanya wadah neo-nomaden yang jujur, bisa mencetak manusia Indonesia yang jujur dalam perdagangan, juri-juri yang jujur, dan penyelenggara yang jujur. Semakin banyak yang jujur, tentu dunia batumulia Indonesia akan semakin terang berderang dan berjalan dengan lebih stabil lagi.

Dan yang sebenarnya menjadi pemenang adalah batumulianya, bukan manusianya.

Terima kasih

Jesse Taslim, G.G.
IMG_5250 IMG_5185 IMG_5251 IMG_5108

DSC_0110 DSC_0297

IMG_5009