‘Sisik Ular Jiphen’-adalah sebuah ‘batumulia’ yang belum terbilang lama hadir dalam dunia batumulia Indonesia. Sebutan tersebut hanya julukan dari market dikarenakan karakternya memang terlihat seperti kulit ular, tapi juga terlihat seperti kulit buah salak, nanas, buah pinus, dan banyak lagi yang tidak memungkinkan kami untuk menyebutkannya satu persatu. Untuk pertama kali, kami memberikan identifikasi spesies ini sebagai-Natural Fossilized Pine Cone- yaitu fosil buah dari pohon pinus.

Suatu hari, gemolog kami yang berada di Surabaya (Mingmha Sherpa) mengabari bahwa sepertinya ada kecurigaan ini bukanlah fosil dari buah pinus, dia melihat adanya karakter-karakter lain yang berdatangan di lab kami yang berada di Surabaya yang memang kebetulan lokasinya paling dekat dengan deposit, sehingga beliaulah yang paling banyak mendapat kesempatan melihat karakter-karakter baru dari spesies ini.

Kunjungan lokasi deposit pertama
Tak lama berselang dari waktu tersebut, seseorang dari komunitas spesies ini yang kebetulan juga memang kawan saya di medsos (Salman Alfarisi) mengajak kami untuk meninjau ke depositnya langsung dan beliau mengatakan jika di tempat ditemukannya spesies ini juga terdapat fosil-fosil laut lainnya, sehingga persentase bahwa ini adalah fosil dari buah pohon pinus cukup kecil. Tentu ini merupakan suatu hal yang istimewa bagi seorang gemolog dapat berkunjung ke lokasi deposit.

Sesampainya disana, sambutan hangat dari komunitas ‘sisik ular jiphen’ yang sedang berkumpul di rumah pak Achmad Affandy di desa Burneh Bangkalan Pulau Madura, menjadikan percakapan dan diskusi seperti di payungi rasa kekeluargaan. Disana kami melihat banyaknya contoh fosil yang sudah di tuai, mulai dari fosil keong (shell), fosil tulang-belulang lainnya, dan sampai fosil gigi ikan hiu.

This slideshow requires JavaScript.


Setelah mencicipi jamuan yang disuguhkan, akhirnya kami pun beranjak menuju lokasi yang tidak begitu jauh dari rumah beliau, namun medan cukup sulit untuk dilewati dikarenakan lokasinya yang memang berada diperbukitan dan penuh dengan semak belukar.

This slideshow requires JavaScript.

Karakter tanah dan batuannya memang benar seperti apa yang dikatakan para ahli geologi, bahwa pulau ini dulunya adalah lautan yang naik menjadi daratan. Di daratan yang lebih rendah bisa kita temukan pasir putih kuarsa yang biasa berada di pantai, dan diperbukitan, kami melihat adanya batuan yang memang terlihat seperti batuan-batuan koral laut. Di bukit tersebut kami menemukan banyak fosil, ada yang berada di tanah, ada yang menempel di batuan, bahkan ada yang kami temukan dengan cara menggalinya terlebih dahulu (varian ‘sisik ular Jiphen’ yang biasanya ditemukan dari dalam tanah).

Konsentrasi deposit yang di dalam tanah belum begitu dalam, disekitar kedalaman 2 sampai 3 meter sudah bisa ditemukan adanya spesies ini.

Entah apa yang akan di dapat jika digali lebih dalam lagi, ini pertanyaan yang muncul di benak, mungkin saja fosil-fosil zaman purbakala lainnya yang lebih dahsyat lagi bisa ditemukan. Setelah kunjungan pertama ini, akhirnya kami GRI-Lab menghentikan sementara untuk tidak menerima spesies ini sampai mendapatkan jawaban yang pasti.

Perjalanan penelitian GRI-Lab 
Kami pun menghubungi museum Zoologi Bogor, setelah berbicara panjang mengenai penemuan ini, kami diarahkan ke Pusat Penelitian Biologi di Cibinong Jawa Barat, lalu kami diarahkan lagi ke Badan Oceanografi LIPI. Diterima oleh staff yang bernama Indra Bayu dan dipertemukan dengan Profesor Suharsono. Beliau mengatakan untuk memastikan spesies fosil ini tidaklah mudah, yang pertama harus dilakukan adalah memastikan usia tanahnya (periode zaman), setelah memastikan usianya, maka dimulailah pencarian hewan maupun tumbuhan yang hidup di zaman itu, dan baru memastikan dari bagian tubuh yang mana spesimen yang ditemukan ini (anatomi). Di akhir diskusi kami, beliau memberikan ide agar mengunjungi Geoteknologi LIPI yang berada di kota Bandung.

img_1322

Bersama Indra Bayu dan Profesor Suharsono di Oceanografi LIPI

Geoteknologi LIPI Bandung
Tanpa menghubungi terlebih dahulu, kami langsung menuju kota Bandung. Sesampainya disana, admin mengatakan bahwa tim lapangan sedang meneliti ke daerah Pacitan. Dengan sedikit perasaan kecewa, ketika sampai di pintu mobil berniat kembali menuju Jakarta terdengar adanya panggilan dari admin tadi yang mengatakan bahwa kami bisa bertemu dengan salah seorang ahli disana yang bernama Masfasran Hendrizan, beliau adalah seorang ahli Mikropaleontologi. Ketika menerima sampel dari kami, beliau terlihat antusias menelitinya dengan menggunakan handloupe yang dibawanya sehari-hari dan mengatakan akan berkonsultasi dengan seniornya yang bernama bapak Tri Hartono. Setelah menyerahkan sampel-sampel, kamipun beranjak pulang.

3 hari setelah itu kami mendapatkan pesan bahwa sample yang diteliti tersebut adalah “Oolite” -yaitu batuan gamping Oolitic kristal yang berbentuk ‘membulat’ (cabochon). Oolites adalah formasi dari calcium berbentuk membulat yang karakternya dihasilkan dari gulungan-gulungan ombak dari sejak zaman Jurassic yang tidak jarang sudah tertutup dengan mineral-mineral lainnya seperti lumpur (mud) ketika ditemukan.
oolites
Kami pun berangkat lagi ke Bandung untuk berdiskusi dengan pak Hendrizan dan bapak Tri Hartono mengenai ‘Oolite’ ini, namun ketika bertemu, beliau-beliau mengatakan setelah melakukan penelitian lebih dalam lagi, akhirnya belum yakin bahwa ini adalah ‘Oolite’ dan mereka lebih meyakini bahwa ini adalah spesies dari Coral. Namun dikarenakan ini memang dunia yang dinamis, pak Hendrizan mengatakan perlunya studi lapangan lebih dalam lagi untuk memastikannya.

dsc01747

Diskusi di Pusat Penelitian Geoteknologi Bandung

dsc01753

Bersama Bapak Tri Hartono dan Masfran Hendrizan di Geoteknologi LIPI Bandung

Contoh spesies lain yang memiliki karakter seperti ‘Sisik Ular Jiphen’
1. Fossilized Pine Cone

2. Cowry Shell

3.Lepidodendron

4.Favosites (Tubular Coral)

5.Oolite

6.Receptaculites

Dan beberapa contoh lain spesies yang memiliki karakter seperti ‘Sisik Ular Jiphen’ sebenarnya masih banyak lagi, sehingga tidak memungkinkan kami untuk mencantumkannya masing-masing dan kebetulan juga di komunitas, spesies yang disebut ‘Blarak’ juga sudah mulai diminati dan diperjual-belikan sehingga pencarian identifikasi akan lebih jauh lagi nantinya.

ian-west

Dr.Ian West

Selain itu kami juga melakukan surat menyurat melalui email dengan seorang ahli Geologi dari Southampton, Inggris yang bernama Dr.Ian West. Setelah menerima gambar mikroskopik kami, beliau juga masih belum bisa memastikan dari spesies apa ‘Sisik Ular Jiphen’ tersebut. “I’am Puzzled!” kata beliau, namun tetap akan melanjutkan penelitian bersama GRI-Lab Indonesia.

Foto mikroskopik GRI-Lab

Kunjungan lokasi deposit ke 2

Kunjungan kali ini, tempat pos kami tepatnya dirumahnya mas Putra. Memberikan informasi mengenai penelitian yang kami lakukan kepada komunitas dan setelah makan siang di rumah beliau, perjalanan pun kami lanjutkan ke lokasi deposit kedua.

Lokasi deposit ini lebih berat dari yang sebelumnya, karena datarannya lebih tinggi. Diatas bukit, kami menemukan galian-galian yang sepertinya baru saja ditinggal oleh penggalinya, karena adanya kedatangan kami, mungkin mereka tidak mau diketahui keberadaannya. Terlihat lubang-lubang serta tanah yang berhamburan, alat-alat yang mereka gunakan untuk mencari spesies ini pun ditinggalkan begitu saja, serta sebagian ada yang disembunyikan dalam pepohonan.

Batuan yang terlihat diatas bukit juga berkarakter seperti batuan koral laut dan kami juga mendapatkan beberapa spesimen untuk di analisa yang akan kami kirimkan ke beberapa universitas dalam dan luar negeri. Setelah kami turun dari bukit, kami bertemu dengan sekelompok ibu-ibu dan kami pun disuguhkan gorengan serta teh manis dingin, dan disana beberapa dari ibu-ibu tersebut menawarkan temuan fosil mereka, sehingga kami membelinya sedikit untuk menambahkan sampel di Lab kami.

img_1651

DSC01907_FotorHHHHHHH.jpg

Konklusi

“Dari analisa yang GRI-Lab lakukan bersama dengan para ahli Geologi, Zoologi, Paleontologi, mikropaleontologi dari dalam maupun luar negeri serta kunjungan ke lokasi konsentrasi deposit ‘Sisik Ular Jiphen’-Kami menyimpulkan bahwa untuk memastikan identifikasi untuk spesies ini adalah hal yang cukup sulit. Selain harus menganalisa periode daratan, lalu meneliti jenis-jenis fosil yang hidup di periode tersebut (hewan & tumbuhan), dan setelah itu kemungkinan harus menganalisa bagian-bagian tubuhnya. Sebenarnya ini adalah wilayahnya Geologi beserta ‘cabang-cabangnya’, namun dikarenakan spesies ini sudah dijadikan “perhiasan”, spesies ini pun akhirnya masuk ke dalam wilayah Gemologi, sehingga kami GRI-Lab menerima spesies ini lagi dengan identifikasi: NATURAL FOSSIL dengan comment:SPECIES HAS NOT BEEN VERIFIED”.

image-3-2-17-at-8-50-pm

This slideshow requires JavaScript.

img_1620

Terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada komunitas ‘Sisik Ular Jiphen’ maupun ‘Blarak’ di Burneh Bangkalan Pulau Madura atas waktu dan sambutan hangatnya. Perjuangan kita tidak sampai disini, karena penelitian ini sifatnya masih berlanjut dan semoga hasil kekayaan alam tersebut bisa menjadi komoditas dan kebanggaan bagi Nusantara.

Terima kasih.

Jesse Taslim

Dokumentasi: Jesse Taslim, Ashari Odon, & Google
Tim Ekspedisi: Rachman, Salman, Sowib, Fathur, Putra, Mattinglan Huzein, Affandy, Musthofa, As’ari, Halim, Ibenk, Sinanggala Galang, Ibrahim, Zainul, & Faisal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: