artikel

Batu Mulia dan Perjalanannya (Bagian 3)

Beberapa bungkus dari Spinelnya Mr Wu, akhirnya mampir di negri Cina, sampai di sebuah perusahaan yang bernama Gem Shanghai Company, perusahaan yang dimiliki oleh masih keluarganya.

Negara Cina, adalah sebuah negara yang baru baru ini seperti terbebas dari ‘isolasi’ ekonomi dan politik, telah mampu membuat negaranya menjadi pusat pemotongan, sumber perdagangan, dan perhiasan jadi. Dengan jutaan pekerja yang masih cukup rendah upahnya, sehingga cukup merubah banyak akan perputaran dunia batu permatanya, yang memang terlihat masih tradisional di tahun-tahun sebelumnya.
manufacture

Perusahaan ini memang khusus bermain di pasar komersial. Biasanya mereka memotong dengan ukuran yang bervariatif, tapi yang terpenting adalah kalibrasi, kedalaman pavilion, dan keseluruhan dari warna, kejernihan, dan potongan yang konsisten.

Seorang sepupu dari Mr Wu yang tinggal di Shanghai, Ling Li, membuka sebuah parsel yang berisi ribuan butir Spinel yang memiliki ukuran hampir sama. Ling Li mulai memutuskan untuk mengambil sebutir yang paling terbaik, untuk menjadi contoh utama ketika dia akan mensejajarkan Spinel-spinel itu dengan kualitas dan penampilan yang berseragam. Dengan cepat dia pun menyimpulkan bahwa Spinel yang dipilihnya bisa diterima untuk masuk di sebuah stasiun televisi berbelanja perhiasan yang terdapat di Amerika Serikat.
spinel in tray

Kembali ke Chantaburi, Mr Wu menunggu atas kedatangan salah satu pembeli potensialnya yang datang dari Jakarta, Hasan, seorang pemain batu permata kawakan yang sudah malang melintang di dunia permata. Hasan datang dari Jakarta khusus untuk mencari beberapa potong Emerald dan batu lainnya dari Mr Wu. Mereka sudah saling mengenal dan mampu bernegosiasi dengan baik.

Hasan, sama seperti pembeli yang berpengalaman lainnya, sudah mengetahui apa yang diinginkan sebelum masuk kedalam kantor Mr Wu. Hasan mencari batu permata dengan kualitas yang baik, untuk menjadikannya sebuah perhiasan kelas menengah yang tidak terlalu tinggi harganya.

Dia cukup tertarik dengan sebuah bungkusan yang berisi beberapa buah Emerald, dia paham bahwa Emerald-emerald ini sudah di treatment minyak (oil treatment). Namun ini bukan merupakan sebuah problem baginya, Hasan faham bahwa treatment ini bersifat lumrah dan mampu memberikan informasi yang baik ke setiap pelanggannya.

Ketika memeriksa bungkusan Emerald, dia membariskannya  di sebuah tempat, untuk melihat persamaan dari kualitas, warna, ukuran, dan potongan. Memang ada perbedaan diantara Emerald-Emerald tersebut, namun sadar bahwa dia memiliki dua pilihan, yaitu membeli seluruh isi bungkusan, tentu dengan harga yang lebih murah ketimbang membelinya dengan cara menyortir atau memilih pilihannya saja. Akhirnya setelah menyisihkan yang tidak diinginkan dari bungkusan tersebut, mereka pun bernegoisasi. Harga yang di dapat ternyata diatas apa yang diinginkannya, tapi dia yakin bahwa dia masih bisa mendapatkan harga yang baik ketika menjual kualitas yang terbaik dari bungkusan tersebut.
emerald in tray

Emerald-emerald itu pun dalam perjalanannya ke Jakarta, dan di waktu yang bersamaan, Bapak Anthony Markis dari perusahaan perhiasan Markis Brothers yang berdomisili di Jakarta, kedatangan sepasang suami istri yang sedang merayakan hari pernikahannya dengan memesan sebuah liontin yang dihiasi oleh Emerald, batu permata kesukaan sang istri.

Bersambung ke: https://jesse-taslim.com/2014/11/06/batu-mulia-dan-perjalanannya-bagian-4/

(Jesse Taslim, G.G)

Categories: artikel

Tagged as: , , , ,

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s