artikel

Batu Mulia dan Perjalanannya

Seorang Madam dengan mobil limosinnya telah sampai ke suatu tempat pelelangan yang cukup terkenal di kotanya, lalu seseorang menghampirinya sambil memberikan sebuah tongkat kayu berbentuk seperti dayung dengan tulisan sebuah nomor dan beliau pun segera duduk di tempat favoritnya.
auctionphoto1

Ada satu pasangan yang sedang merayakan hari ulang tahun pernikahannya yang ke 40 tahun dengan memasuki sebuah toko perhiasan yang dimiliki oleh sebuah keluarga. Sang pemilik pun memberi sambutan di pintu muka, sambil mengantarnya duduk di depan sebuah counter.

jewelery store

Minke, seorang wanita yang berkerja di sebuah rumah sakit sebagai seorang suster senior, baru saja sampai di rumahnya. Dia membuat secangkir teh hangat, menyalakan televisi dengan chanel berbelanja permata melalui televisi, dan bersantai di depan layarnya.
television-watching-photo1

Hari itu, sepertinya mereka semua ingin membeli permata. Madam pun memenangkan lelang dengan membawa pulang ruby dengan berat 4.50 carat yang dibelinya dengan harga 110 juta rupiah. Pasangan yang sedang berbahagia itu mendapatkan sebuah liontin yang terbuat dari platinum dengan harga 35 juta rupiah, dimana liontin itu dihiasi oleh 8 buah Emerald dengan berat 8.25 carat. Dan Minke, akhirnya mematikan televisi setelah membeli sebuah liontin perak yang dikelilingi 10 buah Spinel dengan berat total 5.50 carat dengan harga 3 juta.

“Perlu kita sadari bahwa cerita diatas merupakan sebagian perjalanan dari sebuah permata, yang awalnya memang berasal dari dalam bumi”

Afrika
Kunta Kinte, seorang anak berumur 13 tahun yang hidup di pedalaman Benua Afrika, yang dengan lincahnya selalu memperhatikan gerak-gerik ayahnya yang suka bepergian secara diam-diam dengan beberapa temannya. Sehingga suatu saat dia pun bertanya,

“Ayah! kemana Ayah pergi ? Aku ikut!” Menyadari bahwa anaknya sudah cukup besar, sang ayah pun mengajak. Dengan membawa bekal dan perlengkapan seadanya, melewati jalan berpasir yang tandus, yang hanya dihiasi oleh beberapa pohon yang memang pantas hidup di tengah tanah yang kering.

Perjalanan yang cukup panjang pun tak terasa karena diisi oleh candaan Ayah dan teman temannya, sehingga sampailah mereka di sebuah pohon besar. Sambil meneduh dan menenggak air putih yang dibawanya, sang ayah pun menunjuk ke arah bukit yang dihiasi oleh banyak pepohonan besar nan rimba.

“Tempat itulah yang akan menjadi tujuan kita,” ujar sang ayah.Kalahari_E02_00Mungkin bukit rimba ini tanda bahwa perjalanan sudah dekat, namun medan pun semakin berat dikarenakan lebatnya pepohonan yang diisi oleh rawa-rawa. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Ada sebuah kolam yang tidak terlalu besar atau lebih pantasnya disebut kubangan. Mereka pun langsung menceburkan diri sambil membawa beberapa alat. Mereka menyekop dan mengayak tanah dan batuan yang didapatnya dari dasar kolam. Setelah beberapa jam, sang ayah pun berteriak kegirangan, “Aku dapat !”

africamining

Sebuah kristal berbentuk heksagonal yang berwarna merah sebesar setengah jari telunjuk pun terlihat di tangannya, dan sekitar 5 atau 6 buah kristal kecil dengan warna lainnya telah ditemukan juga oleh teman-teman sang ayah.

Setelah hari menjelang sore, akhirnya mereka pun meninggalkan tempat itu kembali menuju ke desa, lalu keesokan harinya sang ayah dan 1 orang temannya sambil mengajak Kinte beranjak menuju ke kota untuk menjual apa yang mereka dapati kemarin.stones Sesampainya di kota, di suatu tempat yang di penuhi banyak orang, yang mirip seperti lapangan yang di pinggirnya di isi oleh kedai-kedai kopi tempat si pembeli dan penjual bertemu dan juga mobil-mobil yang di parkir di pinggir jalan, dengan penumpangnya yang menggunakan sebuah helm dengan kaca pembesar di depannya sambil dikerumuni beberapa penjual. Kunta kinte pun meminta izin kepada ayahnya untuk berjalan-jalan melihat di sekitarnya.

Pasar itu dipenuhi oleh para pembeli dari beberapa negara, dan ia melihat beberapa pembeli yang berambut pirang, dari bahasanya menandakan mereka adalah orang-orang dari Eropa, juga banyaknya pembeli yang duduk di kedai-kedai dengan berbahasa Sri lanka dan sepertinya yang paling banyak adalah mobil-mobil yang terparkir di pinggir jalan, mereka adalah pembeli dari Thailand.

Mr Wu, seorang pakar batu permata senior yang memiliki keahlian dalam membeli batu permata yang masih berbentuk bahan (rough). Dengan helm kaca pembesarnya dia pun memperhatikan satu persatu bahan yang mampir ke tangannya. Akhirnya di sore hari, walaupun dengan transaksi yang cukup alot, kerikil heksagonal milik ayah Kinte pun jatuh ke tangannya. Dengan banyaknya bahan yang didapat selama satu minggu, Mr Wu pun bersiap siap untuk beranjak pulang ke negara asalnya, Thailand.
ruby rough2

Thailand
Di suatu pagi nan cerah di Chantaburi, Mr Wu menginjakkan kakinya di sebuah kantor yang berbentuk seperti ruko, kantor pribadinya. Lantai 1 yang diisi oleh admin, lantai 2 yang diisi oleh beberapa pegawai yang sudah memiliki kemampuan untuk menyeleksi, dan lantai teratas terdapat ruangan pribadi Mr Wu beserta sekretaris dan beberapa tenaga ahli seniornya.

Mr Wu dan tenaga ahli seniornya memang silih berganti bepergian dalam mencari bahan. Emerald dari Kolombia dan Spinel dari Burma pun menghiasi meja tengah yang berada di lantai 3 kantor tersebut. Akhirnya mereka pun membicarakan tentang bahan-bahan yang mereka dapatkan sambil sesekali mampir ke teras untuk melihatnya di bawah teriknya sinar matahari.

Chantaburi, sebuah kota yang berjarak sekitar 3 jam dari ibukota Thailand, Bangkok. Kota yang relatif cukup kebal terhadap krisis yang melanda seluruh Thailand, kota yang berkembang di dekat pertambangan dan makmur setelah menjadi pusat pemotongan atau pemolesan batu mulia, meskipun pertambangannya sudah tidak mampu lagi memberikan pasokan yang signifikan. Memang pertambangan batu mulia di Thailand tidak lagi menjadi industri, namun sudah menjadi tempat kunjungan wisata edukasi.Chanthaburi_CityChantaburi telah mampu menjadikan dirinya sebagai pusat perdagangan permata Dunia. Cara pemotongan yang baik dan beragam, banyaknya pelaku treatment, dan pasar yang banyak dikunjungi pembeli dari manca negara dapat menjadi magnet, sehingga para pakar bahan permata terus menerus mengirimkan bahan-bahannya ke kota ini.

Di kantor Mr Wu penyeleksian pun dimulai, dimulai dari jenis, ukuran, warna, dan bahan yang perlu di treatment maupun bahan yang tidak perlu di treatment. Sehingga akhirnya bahan-bahan itupun sudah siap untuk di pasarkan di pasar komersial, pasar menengah dan pasar kelas atas.

Pasar komersial yang disebut juga dengan low-end market adalah sektor untuk permata yang berkualitas rata rata dan berukuran kecil. lotDibentuk dengan ukuran yang berkalibrasi, biasanya dengan bentuk bulat dengan diameter 2-mm dan 3-mm, dan 6×4-mm atau 7×5-mm untuk bentuk oval. Sektor ini dapat memenuhi permintaan akan perhiasan yang diproduksi secara masal dengan harga yang cukup rendah. Industri perhiasan dan pelaku pasar membelinya dengan hitungan ribuan tanpa dengan seleksi yang cukup ketat.

multiDi pasar menengah alias ‘the middle market,’ permata dengan jumlah yang lebih sedikit dari sektor komersial sudah dipersiapkan dengan ukuran yang lebih besar, bisa dengan ukuran yang berkalibrasi atau satuan dan tentu dengan potongan yang lebih sempurna. Pembeli melakukan seleksi yang lebih ketat dalam sektor ini, dikarenakan mereka siap membelinya dengan harga yang lebih tinggi. Di sektor ini, warna, potongan, dan kejernihan, lebih diperhitungkan dari pada sektor komersial.

Permata di pasar kelas atas atau bahasa inggrisnya ‘the high end market,’ memiliki kualitas yang tinggi. Tentu dengan harga yang tinggi dan biasanya digunakan untuk perhiasan-perhiasan ‘hand made.’ Area ini adalah area yang paling selektif, dikarenakan nilai individu permata cukup tinggi ketika pelaku pasar  membelinya ketika membutuhi permintaan pelanggannya. Keseluruhan keindahan di sektor ini sangat penting.


Kelangkaan, tingkat kejernihan, warna yang khusus, ukuran yang besar, dan potongan yang sempurna adalah faktor penting untuk sektor ini.

China
Beberapa bungkus dari Spinelnya Mr Wu akhirnya sampai di negara Cina, di sebuah perusahaan yang bernama ‘Gems Shanghai Company,’ perusahaan yang dimiliki oleh salah satu sanak famili Mr Wu. manufactureNegara Cina adalah sebuah negara yang baru-baru ini seperti terbebas dari ‘isolasi’ ekonomi dan politik, tapi telah mampu membuat negaranya menjadi pusat pemotongan, sumber perdagangan, dan perhiasan jadi. Dengan jutaan pekerja yang masih cukup rendah upahnya, sehingga cukup merubah banyak akan perputaran dunia permatanya yang memang terlihat masih tradisional di tahun-tahun sebelumnya.

Perusahaan ini memang khusus bermain di pasar komersial. Biasanya mereka memotong dengan ukuran yang lebih bervariatif, tapi yang terpenting adalah kalibrasi, kedalaman pavilion, dan keseluruhan dari warna, kejernihan, dan potongan yang konsisten. spinel in traySeorang sepupu dari Mr Wu yang tinggal di Shanghai, Ling Li, membuka sebuah parsel yang berisi ribuan butir Spinel yang memiliki ukuran hampir sama. Ling Li mulai memutuskan untuk mengambil sebutir yang paling terbaik untuk menjadi contoh utama ketika dia akan membariskan dan menyeleksi Spinel-spinel itu dengan kualitas dan penampilan yang seragam. Dengan cepat dia pun menyimpulkan bahwa Spinel yang dipilihnya bisa diterima untuk masuk di sebuah stasiun televisi berbelanja perhiasan yang terdapat di Amerika Serikat.

Kembali ke Chantaburi, Mr Wu menunggu kedatangan salah satu pembeli potensialnya yang datang dari Jakarta, yang bernama Hasan. Seorang pemain permata kawakan yang sudah malang melintang di dunia permata. Hasan datang dari Jakarta khusus untuk mencari beberapa potong Emerald dan permata lainnya dari Mr Wu. Mereka sudah saling mengenal dan mampu bernegosiasi dengan baik.

Hasan, sama seperti pembeli yang berpengalaman lainnya, sudah mengetahui apa yang diinginkan sebelum masuk kedalam kantor Mr Wu. Hasan mencari permata dengan kualitas yang baik, untuk menjadikannya sebuah perhiasan kelas menengah yang tidak terlalu tinggi harganya.

Dia cukup tertarik dengan sebuah bungkusan yang berisi beberapa buah Emerald, dia paham bahwa Emerald-emerald ini sudah di treatment minyak (oil treatment). Namun ini bukan merupakan sebuah problem baginya, Hasan faham bahwa treatment ini bersifat lumrah dan mampu memberikan informasi yang baik ke setiap pelanggannya.

emerald in trayKetika memeriksa bungkusan Emerald, dia membariskannya  di sebuah tempat, untuk melihat persamaan dari kualitas, warna, ukuran, dan potongan. Memang ada perbedaan diantara Emerald-Emerald tersebut, namun sadar bahwa dia memiliki dua pilihan, yaitu membeli seluruh isi bungkusan, tentu dengan harga yang lebih murah ketimbang membelinya dengan cara menyortir atau memilih pilihannya saja. Akhirnya, setelah menyisihkan yang tidak diinginkan dari bungkusan tersebut, mereka pun bernegoisasi. Harga yang di dapat ternyata diatas apa yang diinginkannya, tapi dia yakin bahwa dia masih bisa mendapatkan harga yang baik ketika menjual kualitas yang terbaik dari bungkusan tersebut.

Emerald-emerald itu pun dalam perjalanannya ke Jakarta, dan di waktu yang bersamaan, bapak Anthony Markis dari perusahaan perhiasan Markis Brothers yang berdomisili di Jakarta, kedatangan sepasang suami-istri yang sedang merayakan hari pernikahannya dengan memesan sebuah liontin yang dihiasi oleh Emerald, permata kesukaan sang istri.

Dr. Jones, dengan kristal Ruby istimewa yang di dapatnya dari Mr Wu, sedang dalam perjalanannya menuju Bangkok untuk bertemu temannya yang memang ahli dalam memotong bahan sehingga menjadi permata yang siap di gunakan. Setelah dua hari, dia pun beranjak pulang ke rumahnya di Geneva, Swiss untuk mengikut-sertakan Ruby yang dimilikinya di dalam sebuah pelelangan. Tentunya, hal ini memerlukan sebuah strategi yang jitu, salah satunya adalah menyertai Ruby tersebut dengan sebuah sertifikat.

“Memang, hanya sebuah laboratorium gemologi-lah yang dapat memberikan penilaian objektif terhadap keaslian sebuah permata, sehingga lebih mempermudah bagi seorang pembeli potensial untuk mendapatkan informasi akan permatanya”

Sebuah Lab permata telah menganalisanya, dengan identifikasi ‘Natural Ruby’, ‘No Treatment’, dan dengan asal muasal (origin) dari sebuah negara yang bernama Mozambik. Sertifikat ini akan menemani Ruby Dr. Jones sampai ke pelelangan. Asal muasal atau origin, memang dapat menjadi sebuah senjata marketing yang ampuh. Dr. Jones faham bahwa banyak yang akan menyukai dan mencoba untuk memiliki sebuah Ruby dengan kualitas yang baik, ukuran yang cukup besar dan juga berasal dari sebuah deposit/tambang yang cukup terkenal.

Sebelum membawanya ke tempat pelelangan, Dr Jones juga harus memutuskan sesuatu: Apakah harus diikat terlebih dahulu?, dia memutuskan untuk menjualnya secara lepasan, membiarkan pembelinya untuk mendesain sendiri bagaimana perhiasannya nanti.

SAA_Issue7_2012.jpg.webrend.186.231.pngMadam Gigot, adalah pelanggan tetap katalog dari sebuah rumah pelelangan terkenal di kotanya. Selain estimasi harga, katalog ini juga memberikan informasi keseluruhan akan benda-benda penting yang akan diikutsertakan di dalam pelelangan. Didalam sebuah halaman, Madam membaca tentang Ruby yang dimiliki Dr.Jones. Ketika dia mengangkat tongkat yang berbentuk seperti dayung itu dan memenangkan lelang dengan harga 110 juta, Dr. Jones telah menemukan pembeli potensialnya.

Batu Mulia dan Perjalanannya
Di Genewa, Madam telah menyerahkan Ruby itu kepada seorang ahli pembuat perhiasaan langganannya yang memang biasa mendesain seluruh koleksi perhiasannya. Ruby Mozambik tanpa treatmentnya, akan di desain bersamaan dengan beberapa berlian putih, sehingga akan terlihat cantik ketika terpasang di jari manisnya.

Jakarta, di pinggir sebuah pantai, pasangan yang sedang berbahagia merayakan hari pernikahannya itu, sedang makan malam. Delapan buah emerald yang terpasang di sebuah liontin platinum pun terlihat gemerlap, terkena sinar lilin-lilin  meja makan.

Dan Minke, di Benua yang berbeda, Amerika, telah menerima kiriman sebuah liontin perak yang dihiasi oleh sepuluh buah Spinel, yang dibelinya dari sebuah stasiun televisi berbelanja. Perhiasan yang dibuat secara masal di negeri Cina untuk pasar Amerika, dan Minke sudah tidak sabar untuk memperlihatkannya kepada teman teman kerjanya.

This slideshow requires JavaScript.

Permata memang melewati banyak tangan dalam perjalanannya menuju para pelanggan. Di mulai dari penambang hingga ke agen permata, lalu ke ahli pemotongan, bisa juga mampir di ahli treatment, perusahaan perhiasan, laboratorium permata, hingga terpajang di outlet dan akhirnya sampai di tangan para pemiliknya.

Terima kasih
Jesse Taslim

SaveSaveSaveSave

SaveSave

Advertisements

2 replies »

  1. Very Nice…. Sungguh menarik tulisan anda… Sukses selalu untuk anda dan Tim. As a nubie in this kind of world, i salute you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s