Inclusion Gallery

“Mikroskop dapat membuka dimensi lain dari dunia gemologi, yaitu dimensi yang lebih dalam lagi dari sebuah Batumulia, inklusi!”

Anda bisa menemukan sebuah keajaiban yang dapat menyaingi keindahan bahkan petunjuk untuk mengidentifikasikan sebuah batumulia. Contohnya, seperti bagaimana terbentuknya, apakah natural atau sintetik, ada atau tidaknya sebuah perlakuan treatment, juga inklusi yang hanya terdapat di sebuah spesies dan bahkan tanda inklusi dari sebuah tambang.

Selamat datang di dunia Inklusi!


NATURAL AMETHYST

-DOUBLET TREATMENT-

-NATURAL FLUORITE-

-NATURAL ZIRCON-

-SYNTHTETIC SAPPHIRE-

 

Advertisements

Batu Mulia dan Treatment

pliny_elder

Salah satu deskripsi awal yang menyebutkan adanya treatment di batumulia terdapat di karya-karyanya Pliny the elder (Gaius Plinius Secundus), seorang ilmuwan Romawi yang hidup diantara tahun 23 Masehi dan 79 Masehi. Dalam 37 buah karya yang diciptakannya, selain menerangkan mengenai botani, biologi, zoologi, astronomi, dan beberapa topik penting lainnya termasuk Batumulia. Pliny menyebutkan tentang penggunaan oil (minyak), dyes (pencelupan), dan foilback untuk memperbaiki tampilan batumulia pada zamannya, dan treatment tersebut masih digunakan sampai saat ini.

Hari ini, treatment merupakan salah satu bagian terpenting dalam dunia Batumulia dan industri perhiasan. Tanpa treatment, suplai beberapa Batumulia ke dalam jantung dunia industri perhiasan bisa terbatas. Batumulia seperti Ruby, Sapphire, Emerald, Tanzanite, dan Topaz dengan warna dan kualitas yang seadanya, bisa menjadi kurang diinginkan dikarenakan tidak adanya tindakan treatment untuk meningkatkannya.

Treatment di Batumulia adalah hal yang kontroversial. Topik ini mulai ramai dibicarakan di dunia Batumulia dan industri perhiasan sejak sekitar 25 tahun lalu. Treatment dapat membuat Batumulia menjadi tersedia dan lebih bernilai di pasar dan tentu dapat meningkatkan keingintahuan si pengguna, apakah Batumulia yang digunakannya adalah alami secara keseluruhan atau merupakan bagian dari campur tangan manusia. Mengetahui dan memahami akan treatment, bagaimana dan mengapa treatment bisa hadir, lalu juga mengetahui akan isu disekitarnya tentu akan menjadi salah satu modal kesuksesan anda di dunia ini.

low_temperature_heat_636x358_1356006491764

Terima kasih
Jesse Taslim

Picture by:Palagems and GIA.edu

Dilema pasar batumulia Indonesia

Memang salah satu sifat dari sebuah penemuan baru akan sebuah treatment pada batumulia adalah “rahasia”. Selama mungkin, memang jika masih tertutup, maka keuntungannya akan lebih banyak lagi yang didapat.

Namun ketika dunia mulai mengetahuinya, mereka (contohnya treater Thailand) tidak tinggal diam dan merenungi akan kebocoran hal ini. Mereka mulai merubah pola fikirnya, mereka mulai berganti strategi, bagaimana caranya, agar treatment baru ini bisa diterima oleh masyarakat dunia internasional pada umumnya.

Bukankah sebuah treatment biasanya dilakukan memang bertujuan untuk menstabilkan dan memperindah sebuah batumulia?

Contohnya Ruby yang memiliki banyak retakan, bisa ditutupi dengan treatment borax maupun glassfilled, Brown dan Green Sapphire dengan saturasi warna yang rendah bisa diperbaiki dengan treatment beryllium, Topaz putih yang menjadi biru dengan treatment radiasi, Opal berwarna pucat menjadi Black Opal dengan sugar dan smoke treatment, dan banyak lagi lainnya.

Sebenarnya kita tidak kalah oleh mereka, kita adalah yang pertama kali menemukan cara membuat Cat’s eye Chrysoberyl yang berwarna hijau menjadi Coklat dengan treatment radiasi, Agate dan jasper yang tidak bermotif bisa menjadi bermotif, Chrysocolla in Chalcedony yang katanya bisa dibuat lebih transparant, Agate yang bisa menghadirkan ‘fenomena’ atau Petrified Wood dan Boulder Opal kita yang katanya memang bisa diperindah dengan suatu treatment dan banyak lagi treatment lainnya.

Kita seharusnya bangga dengan apa yang kita temukan, bukankah sama dengan mereka?, Kita juga telah menemukan bagaimana caranya agar dapat menciptakan suatu batumulia yang kurang stabil dan kurang indah menjadi sebaliknya. Selama hal ini di tutupi, maka efeknya adalah kecurigaan antara penjual dan pembeli, domestik maupun Internasional.

Salah satu contoh terbaik adalah kota Chantaburi Thailand sebagai pusat treatment dunia. Ketika benua asia terkena krisis keuangan, mereka tidak begitu bermasalah dikarenakan banyak pembelinya yang datang dari negara-negara yang tidak terkena krisis karena, treatment-treatment yang sudah mereka ciptakan, pada akhirnya telah di terima oleh dunia Internasional. Bahkan kita menjadi salah satu negara konsumen terbesarnya. Mengapa glassfilled, berylium, coating, dyed, dan bahkan sintetik, imitasi, juga kaca buatan pabrik  mereka bisa kita terima, namun treatment yang kita ciptakan tidak/belum di terima oleh mereka sepenuhnya?, coba tanyakan pada diri kita sendiri, bukankah kejujuran itu menepis kecurigaan?, kapan mereka (pembeli luar negeri) akan merasa aman ketika berbelanja kepada kita, jika kita masih setengah-setengah dalam kejujuran ketika menjajakan batumulianya.

“Kejujuran produsen pasti  menghadirkan konsumen berkualitas”

Terima kasih
Jesse Taslim

Apa yang kita lihat dengan Handloupe

Apa yang kita lihat dengan Handloupe?

A.Menilai permukaan
Ketika mulai mempelajari permukaan dari sebuah Batumulia, maka hal ini bersangkutan dengan kualitas pemotongan atau pemolesannya.

Seperti yang kita lihat di permukaan, apakah mulus dan terlihat mengkilap?, ini adalah tanda sempurnanya sebuah pemotongan/pemolesan. Kita mungkin melihat adanya lubang kecil (pit) dan goresan. Jika hanya sedikit dan tidak terlihat dengan kasat mata, maka efek mengurangi kecemerlangan (Brilliant) juga tidak terlalu signifikan.

Andaikan mendapati banyaknya lubang-lubang kecil (berjumlah banyak) yang tidak terlihat dengan kasat mata di permukaan, maka hal ini ada efek terhadap kecemerlangannya. Awalnya efek ini tidak terlalu terlihat, tetapi ketika kita mensejajarkannya dengan batumulia lain yang memiliki permukaan yang mulus, maka efek kurangnya kecemerlangan, akan semakin terlihat.

Jika kita sulit memastikan sebuah tanda di batumulia itu berada di permukaan atau di dalamnya, maka rubahlah posisi batumulia sehingga cahaya memantul di permukaan. Ketika permukaan menjadi ‘kaca’, maka inklusi yang di dalam akan tidak terlihat lagi, sedangkan yang di permukaan akan terlihat jelas.

This slideshow requires JavaScript.

Selain inklusi yang berada di permukaan, hal lain yang harus kita perhatikan adalah kesempurnaan pemotongan/pemolesan itu sendiri. Dalam batumulia dengan pemotongan/pemolesan yang sempurna, maka akan memperlihatkan formasi yang baik dalam bentuk maupun ukuran yang sama dengan ujung siku-sikunya saling bertemu dengan tepat.

B. Girdle (‘pinggang’)
Untuk batumulia lainnya, memang jarang ditemukan girdle yang tidak terpoles. Sedangkan di berlian, para cutter memotong/memoles girdle dengan cara yang berbeda dengan batumulia lainnya dikarenakan kekerasan ekstrim yang dimilikinya. Di girdle ini, kita juga bisa menemukan nomor barcode berlian dan tentunya dengan sedikit latihan, kita bisa menentukan kualitas girdle di berlian, apakah poor? fair? good? very good? dan excelent?

This slideshow requires JavaScript.

C.Facet (potongan)
Untuk menilai sebuah kualitas pemotongan, maka yang dilihat adalah saling bertemunya ujung potongan, sudut tajam. Seluruh potongan harus berada di barisan yang sama dengan ukuran dan bentuk yang sama.

D.Culet (bagian paling akhir/bawah)
Lalu, balikkan batumulia anda secara terbalik dan lihatlah ke culet. Kadangkala Batumulia ditaruh bersamaan (lot) dalam sebuah bungkusan dan dapat mengakibatkan benturan maupun gesekan pada beberapa bagian, untuk Berlian biasanya terjadi di bagian paling bawah yang disebut dengan culet. Sekali lagi, jika tak terlihat tanpa perbesaran, ini tidak akan berdampak pada keindahan permata secara signifikan.

This slideshow requires JavaScript.

Sekarang kita dapat memahami pengaruhnya bagaimana kualitas sebuah pemotongan pada Batumulia. Sedikit ke-tidaksempurnaan masih bisa diterima, tapi pekerjaan pemotongan yang ceroboh sangat berpengaruh mengurangi keindahan.

This slideshow requires JavaScript.

Kesalahan kecil pada pemotongan yang tak terlihat dengan kasat mata, jika anda adalah seorang Gemologist pemula dan pelaku pasar pemula, menggunakan handloupe (10x) dapat membuat anda memberikan kesempatan pertama meng-apresiasi akan semua hal yang kita sebutkan diatas.

Terima kasih

Jesse Taslim

Skala kejernihan Batumulia

Sebenarnya, standarisasi gradasi kejernihan atau warna di batumulia (selain berlian) itu belum bersifat umum, tapi kita bisa mengikuti bagaimana cara mereka melakukan hal ini di berlian, walaupun kemungkinan terjadi perbedaan yang signifikan. Warna (color), clarity (kejernihan), cut (potongan), dan weight (berat) adalah faktor utama pada berlian, sedangkan di batumulia, warna merupakan faktor utama, penilaiannya bisa mencapai 60-70%, tentu tanpa melupakan faktor lainnya seperti tingkat kejernihan yang masih bisa di toleransikan pada batumulia, tapi tidak pada berlian.

Tingkat kejernihan juga merupakan suatu hal yang penting pada batumulia, tapi standarisasinya berbeda. Menerapkan standar gradasi kejernihan berlian pada batumulia adalah suatu kesalahan, dan dapat membuat kita banyak melewatkan batumulia yang bagus.

Standarisasi tingkat kejernihan pada batumulia itu tergantung tipe-tipenya. Sejak batumulia hadir dengan berbagai macam jenis, GIA (Gemological Institute of America) mengklasifikasikan batumulia dengan ‘type 1’, ‘type 2’, dan ‘type 3′.

Type 1-Batumulia pada tipe ini biasanya bebas dari inklusi. Kemungkinan pada kualitas terbaik dari tipe ini, kita hanya dapat menemukan inklusi kecil yang hanya terlihat dengan handloupe 10x. Jadi ketika menyeleksi batumulia pada tipe ini kita dapat mengharapkan hampir bersih dari inklusi di handloupe. Batumulia pada tipe ini adalah-Aquamarine, Morganite, Yellow Beryl, Chrysoberyl, Kunzite, Danburite, Smoky Quartz, Blue Topaz, Blue Zircon, White Zircon, and Tanzanite.

Type 2- Batumulia pada tipe ini bisa ditemukan inklusi tapi bisa terlihat bersih jika dengan kasat mata (eye clean). Batumulia pada tipe ini adalah- Apatite, Alexandrite, Corundum, Diopside, Fluorite, Garnet, Iolite, Peridot, Quartz (hampir keseluruhan variannya), Spinel, Tourmaline (hampir keseluruhan kecuali green, Rubellite, dan Watermelon) dan Natural Zircon (kecuali warna biru)

Type 3- Batumulia pada tipe ini selau ditemukan dengan inklusi yang signifikan, bahkan untuk kualitas yang tertingginya sekalipun. Batumulia pada tipe ini adalah-Emerald, Red Beryl, Idocrase, Kyanite, Prehnite, Sphalerite, Sphene, dan Tourmaline-Rubellite-Watermelon.

Beberapa dealer batumulia menggunakan istilah VVS dan VS untuk gradasi batumulianya. Dikarenakan ini adalah istilah yang bersangkutan dengan gradasi berlian, menurut kami hal ini tidak terlalu tepat dan juga dapat membingungkan pelanggan yang memang jarang dari mereka faham akan istilah-istilah ini. Cara yang terbaik adalah menggunakan cara  gradasi kejernihan sesuai fungsinya, dimana batumulia dinilai dengan-bisa terlihatnya inklusi dengan kasat mata atau dengan loupe (kaca pembesar) 10x. Kita bisa menggunakan istilah “loupe clean”, “almost loupe clean”, “eye clean’, very slightly included”, dan seterusnya.

Dan akhirnya, untuk Batumulia yang berbentuk cabochon di gradasi dengan terminologi yang berbeda, cara terbaik adalah dengan memberikan istilah-“transparent” (tembus cahaya) tidak terlihatnya inklusi, lalu “translucent” (tembus cahaya tapi tidak transparan) dan yang terakhir adalah “opaque” (tidak tembus cahaya sama sekali). Batumulia dengan tingkat kejernihan “translucent” contohnya seperti Chrysocolla in Chalcedony dan Chrysoprase dan “opaque” contohnya seperi Jasper, Shell, dan lainnya.

Faceted
IF-Loupe clean-Internally flawless; bebas dari inklusi.
VVS-Almost loupe clean-very, very slight inclusions; inklusi hampir tidak terlihat dengan pembesaran 10x.
VS-Eye clean-very slight inclusion; sedikit inklusi bisa terlihat dengan mata yang terlatih atau dengan pembesaran 10x.
SI-Slightly included-inklusi kecil dapat terlihat dengan kasat mata
I1-Included-inklusi terlihat dengan jelas

Cabochon
Tranparent-Tembus cahaya, bisa memiliki inklusi seperti rutile dan lainnya.
Translucent-Tembus cahaya tapi tidak transparan
Opaque-Tidak tembus cahaya sama sekali.

Terima kasih

Jesse Taslim

Treatment Polymer di Turquoise

This slideshow requires JavaScript.

Turquoise memang biasanya lahir dengan ‘rapuh’ dalam bentuk ‘nugget’ dengan pori-pori yang besar dan dengan tingkat kilau (lustre) di permukaan yang rendah. Untuk meningkatkan kestabilan, kekuatan (toughness) dan tingkat kemilau (lustre), maka treatment polymer impregnation biasa dilakukan. Sekitar 95% Turquoise yang beredar di dunia sudah melalui treatment ini sehingga bersifat common (lumrah) dan memang dilakukan ketika masih dalam bentuk bahan (rough).

Dengan cara menenggelamkannya di cairan polymer (disertai penekanan) dapat membuat cairan masuk di pori-pori, juga di kisi-kisi dalam serta meliputi seluruh permukaan sehingga terjadi adanya lapisan di permukaan yang dapat menguatkan, menstabilkan, serta menghadirkan tingkat kemilau di permukaan yang lebih baik, lalu cairan yang menutupi pori-pori dapat menahan kotoran yang menempel maupun masuknya cairan-cairan lain yang dapat mempengaruhi batu mulia ini, contohnya keringat tubuh kita.

Mendeteksi adanya polymer di Turquoise tidaklah terlalu sulit. Tingkat kilau (lustre) yang berbeda dengan aslinya dapat dipisahkan jika kita sudah terbiasa mempelajarinya. Begitu juga dengan bagian ‘matrix’ yang sejajar dengan bagian permukaan batu, dan dengan adanya lapisan polymer di permukaan, tentu tingkat kekerasan (hardness) di permukaan akan tergantikan menjadi hardness polymer.

Terima kasih

Jesse Taslim

Bulu Macan Surabaya (Natural Basaltic Glass)

024Basaltic Glass yang memiliki properti di refraktif indeks 1.55 +/- dengan berat jenis 2.60+/- dan kekerasan di 5.5 mohs scale ternyata tidak hanya terdapat di daerah Lumajang. Kota yang yang dikenal dengan sebutan kota pahlawan yaitu Surabaya ternyata juga memiliki konsentrasi deposit Basaltic Glass dan mereka memberikannya julukan “Bulu Macan Surabaya” yang disingkat menjadi BMS.
043 045

Karakter yang dimiliki BMS (Bulu Macan Surabaya) sedikit berbeda dengan yang di Lumajang. BMS memiliki warna dasar hitam dengan inklusi fibrous berwarna kekuningan/kecoklatan/keemasan.
r001 - 20160811_105516 11692703_978892112204720_7569853821575462375_n
Perbedaan karakter batumulia disetiap konsentrasi depositnya dikarenakan adanya perbedaan suhu, tekanan di tempat lahirnya bahkan bercampurnya “unsur asing” ketika proses pengkristalan terjadi.

 

001
Mr Mingmha Sherpa, one of our gemologist on location


Terima kasih
Jesse Taslim, G.G

Foto by: Jesse taslim, Muhammad A.G, Edo Tama Irawan, dan Novel Anjula
Thanks to: BMS team, mas Edo dan novel yang sudah mengantarkan gemolog kami ke TKP.

Lukisan Manusia di Batu Mulia

Batu Mulia yang dapat menghadirkan sebuah gambar cukup diminati dunia sehingga dapat menjadikan sebuah peluang bagi seorang ‘seniman’ yang memiliki imajinasi tinggi untuk menciptakan dan menyempurnakan sebuah gambar di batumulia khususnya Agate maupun Jasper.

Metode yang biasanya dilakukan adalah dengan penambahan warna (dyed), bisa juga dengan mengukir/mengikis lalu menambalnya dengan material yang diinginkan, dan disertai dengan pemanasan dan pemolesan, bahkan di zaman modern ini telah ditemukan metode etching, yaitu penggunaan cairan kimia untuk mengikis permukaan sehingga dapat menghadirkan sebuah gambar, selain dengan cairan, etching sekarang sudah menggunakan laser.

Metode dyed yang disertai pemolesan dan tidak jarang yang juga disertai dengan pemanasan adalah yang paling ‘tricky’ dalam dunia batumulia. Konsentrasi warna yang meresap ke dalam pori-pori dapat ‘mengelabui’ jika tidak disertai konsentrasi warna di permukaan dan jika bahan dasarnya memang sudah memiliki inklusi natural dengan warna yang diinginkan, bahan dasar ini adalah yang terbaik untuk menciptakan sebuah gambar pada batumulia.

Dibawah ini, kami akan menghadirkan batumulia-batumulia yang “dilukis” oleh manusia, mungkin bukan hanya dari jenis Agate/Jasper saja dan juga tidak hanya dari 1 metode. Informasi dari masyarakat akan sangat membantu kami untuk menambahkan informasinya, dikarenakan treatment memang biasanya ditemukan terlebih dahulu oleh pelaku pasar, tinggal gemologistnya yang harus curiga dengan hadirnya karakter baru pada batumulia yang berada di tangannya.

Contoh ke 1:
158r001 - 20160805_094355r001 - 20160805_093954r001 - 20160805_093833r001 - 20160805_093801

Contoh ke 2:
162 r001 - 20160805_094642 r001 - 20160805_094558

Contoh 3:
a573-20161004_114307 a581-20161004_114658a579-20161004_114444a578-20161004_114407

Refrensi maupun contoh material akan terus kami tambahkan, mohon informasi dan kerjasamanya.

Terima kasih
Jesse Taslim,G.G.

Thanks to: Landstone, H.Basran,

Hand Loupe dan cara penggunaannya

Hand loupe merupakan salah satu alat yang penting bagi gemolog dan pelaku pasar. Kita bisa mempelajari lebih dalam akan batumulia yang kita miliki atau yang akan kita miliki, dan alat ini lebih mudah digunakan dibanding alat-alat gemologi lainnya. Faktanya, alat ini termasuk yang  termurah dan dapat dibawa ketika bepergian. Kita bisa membawanya di tas kecil, bahkan di dalam saku, dan nanti kita akan merasakan bahwa alat ini bisa menjadi ‘teman dekat’ kita, gemolog dan pelaku pasar.

Kaca pembesar hadir dalam banyak varian. Pembuat atau ahli perbaikan jam lebih memilih jenis yang dapat menempel di rongga mata. Lalu ada yang di buat seperti kacamata atau yang bisa dipasang di kaca mata, beberapa ada yang di fasilitasi dengan penerangan (lampu), atau fitur mewah lainnya. Tapi untuk gemolog dan pelaku pasar, hand loupe lebih di anjurkan.

Sebuah Hand Loupe dengan pembesaran 10x adalah yang paling baik digunakan. Meskipun kita dapat menemukan pembesaran yang lebih tinggi diatasnya, namun kedalaman penglihatan, dan titik fokus akan menjadi lebih sulit untuk ditentukan. Mikroskop adalah alat yang lebih baik, jika kita ingin menggunakan pembesar yang lebih tinggi lagi. Hand Loupe dengan pembesaran yang lebih rendah juga ada, tetapi kita tidak akan melihat sedetail dengan Loupe ini, sehingga 10x Hand Loupe telah menjadi standar untuk pemeriksaan batumulia yang berada di tangan kita.

standardloupe-regKetika mencari atau menggunakan alat ini, kemungkinan akan menemukan istilah-istilah yang asing bagi kita, seperi kata ‘triplet’ ( tiga lapis) dan ‘color correction’ (koreksi warna). Yang dimaksud dengan triplet berarti memiliki 3 lensa yang berguna untuk mengurangi distorsi di sekitar tepi lensa. Sedangkan yang dimaksud dengan color correction adalah adanya fasilitas lapisan khusus untuk koreksi warna. Ini berarti bahwa warna yang kita lihat adalah alami dan tidak terdistorsi ketika menggunakan alat ini.

loupe14loupe12

Dengan menggunakan alat standar ini, yang seorang ahli gunakan untuk dapat menilai kualitas dari sebuah batumulia dengan bantuan pencahayaan yang baik, dengan 10x pembesaran, fasilitas koreksi warna, dan triplet. Ini sudah menjadi standar untuk profesional evaluasi berlian dan keseluruhan batumulia.

Cara menggunakan

Menggunakannya memerlukan sedikit latihan, sehingga nanti kita akan terbiasa dengannya. Ketika membukanya, maka bagian yang tidak berlensa bisa kita jadikan genggaman. Bagi pembesar yang memiliki pegangan berongga, maka kita bisa masukan jari telunjuk dan rapatkan di pipi agar pembesar tersebut stabil. Bagi pembesar yang tidak berongga, kita bisa menggenggam dengan cara yang menurut kita senyaman mungkin dan sekarang kita hanya memiliki satu tangan bergerak untuk fokus.

IMG_6147

triplet1Sebelum fokus pada batumulia melalui pembesar, kita harus memperhatikan cahaya di sekitar. Jika ingin melihat permukaan batumulia, mengevaluasi pemotongan dan pemolesan, tentu kita menginginkan pencahayaan yang sempurna untuk menyinari permukaannya. lampu meja dan ruangan cukup mudah, namun jika menggunakan cahaya matahari, maka biarkan cahaya tersebut melalui bahu kita. Hal yang terpenting adalah hindarkan adanya bayangan yang menutupi batumulia kita.

IMG_6149

LONDON - DECEMBER 07: A jeweler examines a brilliant cut 1.01 carat diamond on December 7, 2006 in London, England. The UN General Assembly passed a resolution on December 4, 2006 backing the Kimberley Process, a global initiative aimed at preventing "conflict diamonds" from funding warfare and civil unrest. The issue will be highlighted by the forthcoming release of the new Leonardo Di Caprio film "Blood Diamonds" (Photo by Bruno Vincent/Getty Images)

Untuk melihat inklusi di dalam batumulia, kita memerlukan cahaya di belakangnya yang bersinar menembus melalui batumulia. Sering kali kita mendapatkan melihat keduanya, permukaan maupun interiornya, hal ini bisa terjadi dikarenakan masih adanya cahaya disekitar ruangan dan bisa diatasi dengan sedikit penyesuaian. Menggerak-gerakkan batumulia kita ke posisi terbaik dan mengurangi pencahayaan ruangan adalah hal yang jitu jika ingin fokus ke inklusi.

DSC_0016

213Untuk fokus dengan pembesar, genggamlah dengan stabil menyentuh pipi. Tetap buka kedua mata untuk mengurangi ketegangan mata kita dan tahan batumulianya di depan pembesar. Lalu gerakkan batumulia tersebut maju dan mundur sampai mendapatkan titik fokus. Kemudian latihlah untuk melihat permukaan sampai ke titik belakang. Batumulia yang berukuran kecil, kita bisa mendapatkan fokus langsung di keseluruhan, sedang untuk ukuran yang lebih besar, kita memerlukan fokus di area tertentu dan di area lain setelahnya.290705

Sekian dari kami sedikit penjelasan akan informasi mengenai hand loupe. Sebenarnya alat ini bukan suatu hal yang patut dikesampingkan dalam dunia batumulia. Anda ingin sukses dalam dunia batumulia?, gunakanlah loupe di setiap batumulia yang mampir di tangan anda mulai saat ini. Kami yakin, dalam hitungan bulan, anda akan merasakan perbedaannya.
s-l1600
Kemungkinan besar pengetahuan akan sebuah spesies, varian, treatment, sintetik, imitasi, dan bahkan origin dari sebuah batumulia akan semakin dikenali dan dalam waktu dekat akan kami tambahkan artikel mengenai trik-trik menggunakan hand loupe dalam menganalisa sebuah batumulia dan aspek keberagamannya.

Terima Kasih
Jesse Taslim, G.G.

Photo: Adam Effendi & Google

 

 

Fenomena O-Ring di Chalcedony

Ketika mengunjungi sebuah kontes batumulia di pulau Borneo, ada seseorang yang menyapa untuk mengenalkan sebuah ‘varian’ baru dari Chalcedony yang memiliki ‘fenomena’ seperti ada lingkaran di daerah girdle (pinggang). Namanya mas Ari atau lebih dikenal dengan Ari Kandidat, dengan antusiasnya beliau memberikan penjelasan mengenai bagaimana fenomena ini bisa muncul di Chalcedony dan cukup membuatku tertarik untuk memiliki dan menganalisanya. Kurang lebihnya mas Ari menjelaskan bahwa spesimen ini sama dengan varian yang bisa menghadirkan fenomena ‘Chatoyancy’ di Chalcedony, namun dipoles dengan metode yang berbeda, kemungkinan perbedaannya di arah mana inklusi di dalam dan bagaimana menghadapkan table/meja Chalcedony ini.
1910201_1223985120962943_5898276173209497319_n12821945_1277343525627102_439493658_n

This slideshow requires JavaScript.

Sepulangnya dari Borneo, sekitar 1 minggu setelah pertemuan tersebut, aku di tag di facebook oleh seorang yang bernama Rinanto Dwi Hantoro, dan kebetulan postingannya juga mengenai fenomena O-RING di CHALCEDONY, sehingga membuat saya lebih bersemangat lagi untuk membuat artikel mengenai fenomena ini. Akhirnya dengan pengharapan yang tinggi, saya meminta beliau untuk menuliskan bagaimana gambaran sebagai pelaku pasar dalam menguraikan fenomena ini, dan akhirnya beliau pun bersedia dan ulasannya dapat dibaca dibawah:
12516105_10204755655566273_1890064727_n

Ulasan dari Rinanto Dwi Hantoro
Seiring perkembangan kemajuan perbatuan di tanah air, hadir satu jenis batuan lokal yang dimodifikasi sehingga terlihat sangat unik. Para gemslover tentu telah sering mendengar, melihat, bahkan sampai dengan menjadikan batu jenis ini sebagai bagian dari koleksi pribadinya.
Biasa disebut Chalcedony Fenomena O-Ring (Know as ” Keladen Fenomena O-Ring ” in the trade Indonesia Local Market ).

Dalam tekhnis penggosokannya tergolong memiliki tingkat kesulitan tersendiri dibanding bentuk (shape) gosokan batu yang sudah pernah ada sebelumnya. Secara tekhnis dalam penggosokannya memerlukan keahlian ataupun ketelitian yang cukup tinggi.
Deskripsi batu jenis ini adalah:
-Berbentuk bundar yang simetris dengan kubah bagian atas dan bawah (Double Cabhocon);
– Terdapat bias sinar /cahaya yang tajam di sekelilingnya, terlihat seperti penampakan fenomena gerhana matahari (untuk Yellow, Orange, Red Chalcedony); dan tampak seperti fenomena gerhana bulan (untuk White/Colorless Chalcedony).
– Untuk fenomena O-Ring tersebut terbagi menjadi 2; yakni Single O-Ring dan Double O-Ring. Yaitu terdapatnya satu garis tajam yang menyala dan mengelilingi tepi batu (Single O-Ring). Dan terdapat dua garis tajam yang menyala dan mengelilingi tepi batu bagian terluar dan bagian dalam yang tampil berdekatan dan berdampingan (Double O-Ring).

Seiring waktu berjalan maka saya mencoba untuk membuat fenomena “Triple O-Ring” dengan tampilan yang baru dengan harapan bisa menggugah selera pasar agar tidak terlihat seperti monoton. Mengenai bahan baku tersebut biasa digunakan jenis Chalcedony dengan tingkat clarity yang cukup baik. Artinya semakin tinggi tingkat clarity nya maka semakin maksimal pula fenomena O-Ring yang dihasilkan.

12324913_10204717693377242_612972526_n12804434_10204717693097235_1882162543_n 12825436_10204717693857254_1001914146_n 10327026_10204717693177237_331860305_n 12825408_10204717693297240_762220627_n 12207619_10204717693697250_668646470_n

Untuk menghasilkan bias cahaya/fenomena O-Ring yang berkualitas yaitu bahan yang bebas dari serat ‘kura-kura’ maupun serat ‘sulaiman’ (para gemslover pastinya sudah paham istilah ini).  Ini menjadi syarat mutlak untuk menghasilkan fenomena O-Ring yang maksimal (menurut pengalaman pribadi).

Beberapa cara atau tekhnis penggosokan/pemolesan batu tersebut adalah:
– Untuk bahan yang mengandung genggang dalam pembuatan fenomena O-Ring ini biasanya pada saat pemotongan bahan (membuat pola kasar) maka arah genggang dikondisikan mendatar (horisontal) dan biasanya diposisikan di bawah, biasa tekhnik ini disebut dengan istilah “karpet” (di Pacitan Jawa Timur), dengan orientasi tetap menimbulkan fenomena O-Ring walaupun pada bahan yang beserat kura-kura.
– Namun ada juga yang menyisakan genggang/serat sulaiman di bawah batu setipis mungkin, terlihat seperti satu lapisan/layer tipis yang sengaja dibiarkan tanpa bertujuan untuk menghilangkannya –> istilah “karpet”, orientasinya untuk menimbulkan efek/fenomena Double O-Ring dengan 2 warna sinar ring yang berbeda.
Misalkan ingin membuat fenomena O-Ring terluar adalah warna orange dan O-Ring bagian terdalam adalah berwarna putih. Pada contoh tekhnik ini biasanya menggunakan bahan putih atau bahkan colorless yang mempunyai sebidang layer/lapisan warna lain di permukaan bawah batu dengan dimensi lapisan/layer yang cukup kecil dan juga tipis. Layer/lapisan warna ini sengaja tidak dihilangkan, dengan orientasi menghasilkan fenomena O-Ring berwarna orange di bagian tepi terluar batu. Tentunya fenomena O-Ring yang berwarna putih akan berada di bagian dalam. Tidak menutup kemungkinan untuk yang berserat kura-kura juga bisa dibuat fenomena O-ring dengan syarat tetap harus menggunakan bahan yang cukup bening (tingkat clarity nya cukup baik). Tingkat clarity pada bahan yang baik tentunya akan menghasilkan fenomena O-Ring yang cukup baik pula.

Demikian ulasan mengenai fenomena O-Ring Chalcedony dari mas Rinanto, tidak menutup kemungkinan akan adanya penambahan keterangan, dimana kebetulan fenomena ini cukup baru ditemukan dan sedikit saya ingin tambahkan foto-foto inklusi dari sample yang saya dapatkan. Inklusi heat wave (saya menyebutnya demikian) adalah inklusi yang memang didapatkan dalam Chalcedony yang memiliki ‘fenomena’ cats eye maupun ‘O-Ring’ Sesuatu yang ‘seragam’ di dalam sebuah media, jika di sorot sinar cahaya, maka biasanya akan memantulkan lagi, Jika pemotongannya memang pada tempatnya, maka bisa mnghadirkan sebuah ‘fenomena’ tinggal inklusi tersebut, apakah termasuk yang lumrah atau tidak.

Terima kasih

Jesse Taslim, Rinanto Dwi Hantoro & Ari Kandidat

12067118_1285631868131601_577736337_n 12476078_1285631841464937_676470155_n

 

Advertisements

Batu Mulia dan Informasinya