“Mengkaryakan ‘limbah’ Batumulia”

This slideshow requires JavaScript.

Disinilah tempat berlian trisakti Indonesia ditemukan, berlian yang tersohor dan yang keberadaannya sudah tidak diketahui lagi saat ini. Lokasi ini berada di Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Banjar (sekarang Kota Banjarbaru), Kalimantan Selatan. Pendulangan Intan dilokasi ini sudah tidak dilakukan lagi, entah karena memang sudah tidak memiliki konsentrasi deposit berlian, atau memang ada larangan dari pemerintah.

Suatu hal yang membuat takjub adalah dimana tempat kami berdiri dan seluas mata memandang ini, danau dipenuhi dengan mineral Quartz, Quartzite, Agate, Jasper, dan mungkin ada beberapa mineral lainnya lagi. ‘Limbah’ adalah kata yang terlontar dari penduduk lokal, semua mineral yang terlihat semata luas memandang ini mereka sebut limbah dari pendulangan berlian.

Gratis dan tinggal kirim ke Jakarta, ini yang sempat terfikir saat ramai-ramainya pasar batumulia nusantara waktu itu. Mungkin sepuluh ribu perak perbuah bisa laku dengan cepat, sedangkan modalnya hanya logistik.

6 Bulan setelah kunjungan pertama, ‘limbah-limbah’ ini sudah mulai ada yang ‘melirik’ untuk digunakan sebagai ubin, bahkan  dinding rumah.

Bisa mereka berikan pewarnaan atas kesukaan atau pesanan pelanggan, ini biasanya yang berbahan Jasper. Sedangkan yang berbahan Quartzite (pouros-berpori-pori) bisa mereka rendam dengan zat pewarna (Dyed method), biasanya warna hijau untuk ‘pengganti’ batu Jade, Bacan, dan batuan hijau lainnya.

Selain metode diatas, sebenarnya mineral-mineral tersebut juga memiliki ‘tingkat kekerasan’ di sekitar angka 6-6.5 mohscale (Quartz dan Chalcedony) sehingga ada metode lain, yaitu, dengan menumbuknya sehingga bisa menjadi bubuk pemoles. Tentu bahan dasar wajib diseleksi dengan ketat, dikarenakan kemungkinan adanya mineral lain dengan tingkat kekerasan yang berbeda, yang akhirnya bercampur, sehingga bisa mengurangi kualitas dari produk yang akan anda ciptakan nantinya.

This slideshow requires JavaScript.

Banten

Ketika berada di tambang Opal Cirarang Banten, Jawa Barat. Ketika ada aktifitas di dalam tambang, diatas tambang juga aktifitas, selain menjaga kami, mereka juga ada yang mengetukkan batu batu keras yang berada dipinggir tambang. “Rencekan……..”,  sebut mereka,-Potongan-potongan kecil yang didapat ketika batu keras terbelah.

Opal-Opal kecil yang mereka temukan, dan Opal-Opal Indah tersebut dapat mereka potong dan poles, lalu digunakan sebagai “Perhiasan”. Metode “composite” dapat menjadi salah satunya, namun kombinasi antara cincin yang terbuat dari tanduk sebuah Kerbau terlihat menarik. Potongan-potongan berbentuk kotak dari Opal tersebut terpasang berbaris di cincin yang terbuat dari tanduk kerbau.

Bangkalan, Madura

Memang jarang dapat menemukan bahan ‘sisik ular jiphen’ dalam diameter yang besar, biasanya mereka temukan dalam ukuran-ukuran kecil sehingga sulit untuk dijadikan batu cincin. Metode composite juga mereka lakukan agar bisa dibentuk sebagai perhiasan maupun cinderemata lainnya. Contoh pipa di bawah adalah salah satunya dan merupakan hadiah kebanggan atas kunjungan kami disana.

Burma

Sekitar awal tahun 2000an ketika bepergian ke Burma yang sekarang kita kenal dengan Myanmar, ada sebuah karya lukisan manusia yang berasal dari potongan-potongan kecil mineral Korundum. Di sketsa terlebih dahulu, lalu ditabur dengan butiran batu, ada yang berwarna merah, hijau, kuning dan warna lainnya, entah Korundum atau bercampur dengan mineral lainnya.

Konklusi

Sebenarnya masih banyak metode-metode lain untuk mengkaryakan “hasil limbah dari tambang batu” sehingga potongan-potongan kecil dari sebuah mineral tidak terbuang begitu saja. Banyaknya mineral, banyaknya metode, dan banyaknya cara bagaimana agar bisa dipasarkan dengan mudah, tentu dengan kualitas yang terjaga.

Sebenarnya jika hal-hal diatas mau kita kerjakan, maka dapat membuka peluang kerja yang sangat besar sekali. Selama kita menjaga kualitas dan mau ‘bekerja-sama’ dengan pemerintah dalam pemasarannya, saya yakin hal diatas bukanlah “rumus” yang boleh dianggap remeh.

Terima kasih
Jesse Taslim

Photo by: Jesse Taslim, Ashari Odon, & Google
DSC_0019_Fotor

Advertisements

Menciptakan ‘Star’ (asterism) di Batumulia.

Video diatas menampilkan sebuah batumulia berbentuk oval dengan polesan cabochon dan menghadirkan sebuah fenomena asterism (star).  Safir, Garnet, mungkin juga Spinel, atau spesies lainnya bisa hadir di kepala kita jika hanya dengan kasat mata, tapi setelah di analisa propertisnya, spesimen diatas hanyalah sebuah Synthetic Cubic Zirconia.

Bukankah untuk menghadirkan sebuah Asterism (star) di sebuah spesimen natural (alam) harus/wajib adanya inklusi (biasanya Rutile) yang saling silang menyilang (intersecting) agar dapat menghasilkan sebuah fenomena ‘Star’?, lalu, apakah Cubic Zirconia ini memiliki inklusi tersebut?, tentu tidak.

Cubic Zirconia, Glass (manmade), Syntetic, dan lain lain, bahkan batumulia natural lainnya yang tidak memiliki inklusi (flawless clarity) dapat diolah lagi untuk dapat menghadirkan fenomena ini. Dengan goresan saling silang menyilang di bagian bawah yang datar (flat), sehingga cahaya yang masuk ke dalam media (batumulia) yang dipoles cabochon dapat memantulkan kembali cahaya tersebut dan mengikuti permukan yang membulat sehingga dapat menghadirkan fenomena ‘Star’ (asterism).

Caranya, tentu memerlukan keahlian khusus ketika menciptakannya, tentu dengan alat gores yang memiliki kekerasan melebihi spesimennya. Silahkan mecoba, enjoy.

Terima kasih
Jesse Taslim

Foto dan Video: Jesse Taslim

‘Sisik Ular Jiphen’ (trip to Bangkalan Madura)

‘Sisik Ular Jiphen’-adalah sebuah ‘batumulia’ yang belum terbilang lama hadir dalam dunia batumulia Indonesia. Sebutan tersebut hanya julukan dari market dikarenakan karakternya memang terlihat seperti kulit ular, tapi juga terlihat seperti kulit buah salak, nanas, buah pinus, dan banyak lagi yang tidak memungkinkan kami untuk menyebutkannya satu persatu. Untuk pertama kali, kami memberikan identifikasi spesies ini sebagai-Natural Fossilized Pine Cone- yaitu fosil buah dari pohon pinus.

Suatu hari, gemolog kami yang berada di Surabaya (Mingmha Sherpa) mengabari bahwa sepertinya ada kecurigaan ini bukanlah fosil dari buah pinus, dia melihat adanya karakter-karakter lain yang berdatangan di lab kami yang berada di Surabaya yang memang kebetulan lokasinya paling dekat dengan deposit, sehingga beliaulah yang paling banyak mendapat kesempatan melihat karakter-karakter baru dari spesies ini.

Kunjungan lokasi deposit pertama
Tak lama berselang dari waktu tersebut, seseorang dari komunitas spesies ini yang kebetulan juga memang kawan saya di medsos (Salman Alfarisi) mengajak kami untuk meninjau ke depositnya langsung dan beliau mengatakan jika di tempat ditemukannya spesies ini juga terdapat fosil-fosil laut lainnya, sehingga persentase bahwa ini adalah fosil dari buah pohon pinus cukup kecil. Tentu ini merupakan suatu hal yang istimewa bagi seorang gemolog dapat berkunjung ke lokasi deposit.

Sesampainya disana, sambutan hangat dari komunitas ‘sisik ular jiphen’ yang sedang berkumpul di rumah pak Achmad Affandy di desa Burneh Bangkalan Pulau Madura, menjadikan percakapan dan diskusi seperti di payungi rasa kekeluargaan. Disana kami melihat banyaknya contoh fosil yang sudah di tuai, mulai dari fosil keong (shell), fosil tulang-belulang lainnya, dan sampai fosil gigi ikan hiu.

This slideshow requires JavaScript.


Setelah mencicipi jamuan yang disuguhkan, akhirnya kami pun beranjak menuju lokasi yang tidak begitu jauh dari rumah beliau, namun medan cukup sulit untuk dilewati dikarenakan lokasinya yang memang berada diperbukitan dan penuh dengan semak belukar.

This slideshow requires JavaScript.

Karakter tanah dan batuannya memang benar seperti apa yang dikatakan para ahli geologi, bahwa pulau ini dulunya adalah lautan yang naik menjadi daratan. Di daratan yang lebih rendah bisa kita temukan pasir putih kuarsa yang biasa berada di pantai, dan diperbukitan, kami melihat adanya batuan yang memang terlihat seperti batuan-batuan koral laut. Di bukit tersebut kami menemukan banyak fosil, ada yang berada di tanah, ada yang menempel di batuan, bahkan ada yang kami temukan dengan cara menggalinya terlebih dahulu (varian ‘sisik ular Jiphen’ yang biasanya ditemukan dari dalam tanah).

Konsentrasi deposit yang di dalam tanah belum begitu dalam, disekitar kedalaman 2 sampai 3 meter sudah bisa ditemukan adanya spesies ini.

Entah apa yang akan di dapat jika digali lebih dalam lagi, ini pertanyaan yang muncul di benak, mungkin saja fosil-fosil zaman purbakala lainnya yang lebih dahsyat lagi bisa ditemukan. Setelah kunjungan pertama ini, akhirnya kami GRI-Lab menghentikan sementara untuk tidak menerima spesies ini sampai mendapatkan jawaban yang pasti.

Perjalanan penelitian GRI-Lab 
Kami pun menghubungi museum Zoologi Bogor, setelah berbicara panjang mengenai penemuan ini, kami diarahkan ke Pusat Penelitian Biologi di Cibinong Jawa Barat, lalu kami diarahkan lagi ke Badan Oceanografi LIPI. Diterima oleh staff yang bernama Indra Bayu dan dipertemukan dengan Profesor Suharsono. Beliau mengatakan untuk memastikan spesies fosil ini tidaklah mudah, yang pertama harus dilakukan adalah memastikan usia tanahnya (periode zaman), setelah memastikan usianya, maka dimulailah pencarian hewan maupun tumbuhan yang hidup di zaman itu, dan baru memastikan dari bagian tubuh yang mana spesimen yang ditemukan ini (anatomi). Di akhir diskusi kami, beliau memberikan ide agar mengunjungi Geoteknologi LIPI yang berada di kota Bandung.

img_1322
Bersama Indra Bayu dan Profesor Suharsono di Oceanografi LIPI

Geoteknologi LIPI Bandung
Tanpa menghubungi terlebih dahulu, kami langsung menuju kota Bandung. Sesampainya disana, admin mengatakan bahwa tim lapangan sedang meneliti ke daerah Pacitan. Dengan sedikit perasaan kecewa, ketika sampai di pintu mobil berniat kembali menuju Jakarta terdengar adanya panggilan dari admin tadi yang mengatakan bahwa kami bisa bertemu dengan salah seorang ahli disana yang bernama Masfasran Hendrizan, beliau adalah seorang ahli Mikropaleontologi. Ketika menerima sampel dari kami, beliau terlihat antusias menelitinya dengan menggunakan handloupe yang dibawanya sehari-hari dan mengatakan akan berkonsultasi dengan seniornya yang bernama bapak Tri Hartono. Setelah menyerahkan sampel-sampel, kamipun beranjak pulang.

3 hari setelah itu kami mendapatkan pesan bahwa sample yang diteliti tersebut adalah “Oolite” -yaitu batuan gamping Oolitic kristal yang berbentuk ‘membulat’ (cabochon). Oolites adalah formasi dari calcium berbentuk membulat yang karakternya dihasilkan dari gulungan-gulungan ombak dari sejak zaman Jurassic yang tidak jarang sudah tertutup dengan mineral-mineral lainnya seperti lumpur (mud) ketika ditemukan.
oolites
Kami pun berangkat lagi ke Bandung untuk berdiskusi dengan pak Hendrizan dan bapak Tri Hartono mengenai ‘Oolite’ ini, namun ketika bertemu, beliau-beliau mengatakan setelah melakukan penelitian lebih dalam lagi, akhirnya belum yakin bahwa ini adalah ‘Oolite’ dan mereka lebih meyakini bahwa ini adalah spesies dari Coral. Namun dikarenakan ini memang dunia yang dinamis, pak Hendrizan mengatakan perlunya studi lapangan lebih dalam lagi untuk memastikannya.

dsc01747
Diskusi di Pusat Penelitian Geoteknologi Bandung
dsc01753
Bersama Bapak Tri Hartono dan Masfran Hendrizan di Geoteknologi LIPI Bandung

Contoh spesies lain yang memiliki karakter seperti ‘Sisik Ular Jiphen’
1. Fossilized Pine Cone

2. Cowry Shell

3.Lepidodendron

4.Favosites (Tubular Coral)

5.Oolite

6.Receptaculites

Dan beberapa contoh lain spesies yang memiliki karakter seperti ‘Sisik Ular Jiphen’ sebenarnya masih banyak lagi, sehingga tidak memungkinkan kami untuk mencantumkannya masing-masing dan kebetulan juga di komunitas, spesies yang disebut ‘Blarak’ juga sudah mulai diminati dan diperjual-belikan sehingga pencarian identifikasi akan lebih jauh lagi nantinya.

ian-west
Dr.Ian West

Selain itu kami juga melakukan surat menyurat melalui email dengan seorang ahli Geologi dari Southampton, Inggris yang bernama Dr.Ian West. Setelah menerima gambar mikroskopik kami, beliau juga masih belum bisa memastikan dari spesies apa ‘Sisik Ular Jiphen’ tersebut. “I’am Puzzled!” kata beliau, namun tetap akan melanjutkan penelitian bersama GRI-Lab Indonesia.

Foto mikroskopik GRI-Lab

Kunjungan lokasi deposit ke 2

Kunjungan kali ini, tempat pos kami tepatnya dirumahnya mas Putra. Memberikan informasi mengenai penelitian yang kami lakukan kepada komunitas dan setelah makan siang di rumah beliau, perjalanan pun kami lanjutkan ke lokasi deposit kedua.

Lokasi deposit ini lebih berat dari yang sebelumnya, karena datarannya lebih tinggi. Diatas bukit, kami menemukan galian-galian yang sepertinya baru saja ditinggal oleh penggalinya, karena adanya kedatangan kami, mungkin mereka tidak mau diketahui keberadaannya. Terlihat lubang-lubang serta tanah yang berhamburan, alat-alat yang mereka gunakan untuk mencari spesies ini pun ditinggalkan begitu saja, serta sebagian ada yang disembunyikan dalam pepohonan.

Batuan yang terlihat diatas bukit juga berkarakter seperti batuan koral laut dan kami juga mendapatkan beberapa spesimen untuk di analisa yang akan kami kirimkan ke beberapa universitas dalam dan luar negeri. Setelah kami turun dari bukit, kami bertemu dengan sekelompok ibu-ibu dan kami pun disuguhkan gorengan serta teh manis dingin, dan disana beberapa dari ibu-ibu tersebut menawarkan temuan fosil mereka, sehingga kami membelinya sedikit untuk menambahkan sampel di Lab kami.

img_1651

DSC01907_FotorHHHHHHH.jpg

Konklusi

“Dari analisa yang GRI-Lab lakukan bersama dengan para ahli Geologi, Zoologi, Paleontologi, mikropaleontologi dari dalam maupun luar negeri serta kunjungan ke lokasi konsentrasi deposit ‘Sisik Ular Jiphen’-Kami menyimpulkan bahwa untuk memastikan identifikasi untuk spesies ini adalah hal yang cukup sulit. Selain harus menganalisa periode daratan, lalu meneliti jenis-jenis fosil yang hidup di periode tersebut (hewan & tumbuhan), dan setelah itu kemungkinan harus menganalisa bagian-bagian tubuhnya. Sebenarnya ini adalah wilayahnya Geologi beserta ‘cabang-cabangnya’, namun dikarenakan spesies ini sudah dijadikan “perhiasan”, spesies ini pun akhirnya masuk ke dalam wilayah Gemologi, sehingga kami GRI-Lab menerima spesies ini lagi dengan identifikasi: NATURAL FOSSIL dengan comment:SPECIES HAS NOT BEEN VERIFIED”.

image-3-2-17-at-8-50-pm

This slideshow requires JavaScript.

img_1620

Terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada komunitas ‘Sisik Ular Jiphen’ maupun ‘Blarak’ di Burneh Bangkalan Pulau Madura atas waktu dan sambutan hangatnya. Perjuangan kita tidak sampai disini, karena penelitian ini sifatnya masih berlanjut dan semoga hasil kekayaan alam tersebut bisa menjadi komoditas dan kebanggaan bagi Nusantara.

Terima kasih.

Jesse Taslim

Dokumentasi: Jesse Taslim, Ashari Odon, & Google
Tim Ekspedisi: Rachman, Salman, Sowib, Fathur, Putra, Mattinglan Huzein, Affandy, Musthofa, As’ari, Halim, Ibenk, Sinanggala Galang, Ibrahim, Zainul, & Faisal.

Inclusion Gallery

“Mikroskop dapat membuka dimensi lain dari dunia gemologi, yaitu dimensi yang lebih dalam lagi dari sebuah Batumulia, inklusi!”

Anda bisa menemukan sebuah keajaiban yang dapat menyaingi keindahan, bahkan petunjuk untuk mengidentifikasikan sebuah batumulia. Contohnya, seperti bagaimana terbentuknya, apakah natural atau sintetik, ada atau tidaknya sebuah perlakuan treatment, juga inklusi yang hanya terdapat di sebuah spesies dan bahkan tanda inklusi dari sebuah tambang.

Selamat datang di dunia Inklusi!


AMETHYST (Natural)

-DOUBLET TREATMENT-

-FLUORITE (Natural)-

-Lepidocrosite in QUARTZ (Natural)-

-SAPPHIRE (Synthetic)-

 -Zircon (Natural)-

 

Batu Mulia dan Treatment

pliny_elder

Salah satu deskripsi awal yang menyebutkan adanya treatment di batumulia terdapat di karya-karyanya Pliny the elder (Gaius Plinius Secundus), seorang ilmuwan Romawi yang hidup diantara tahun 23 Masehi dan 79 Masehi. Dalam 37 buah karya yang diciptakannya, selain menerangkan mengenai botani, biologi, zoologi, astronomi, dan beberapa topik penting lainnya termasuk Batumulia. Pliny menyebutkan tentang penggunaan oil (minyak), dyes (pencelupan), dan foilback untuk memperbaiki tampilan batumulia pada zamannya, dan treatment tersebut masih digunakan sampai saat ini.

Hari ini, treatment merupakan salah satu bagian terpenting dalam dunia Batumulia dan industri perhiasan. Tanpa treatment, suplai beberapa Batumulia ke dalam jantung dunia industri perhiasan bisa terbatas. Batumulia seperti Ruby, Sapphire, Emerald, Tanzanite, dan Topaz dengan warna dan kualitas yang seadanya, bisa menjadi kurang diinginkan dikarenakan tidak adanya tindakan treatment untuk meningkatkannya.

Treatment di Batumulia adalah hal yang kontroversial. Topik ini mulai ramai dibicarakan di dunia Batumulia dan industri perhiasan sejak sekitar 25 tahun lalu. Treatment dapat membuat Batumulia menjadi tersedia dan lebih bernilai di pasar dan tentu dapat meningkatkan keingintahuan si pengguna, apakah Batumulia yang digunakannya adalah alami secara keseluruhan atau merupakan bagian dari campur tangan manusia. Mengetahui dan memahami akan treatment, bagaimana dan mengapa treatment bisa hadir, lalu juga mengetahui akan isu disekitarnya tentu akan menjadi salah satu modal kesuksesan anda di dunia ini.

low_temperature_heat_636x358_1356006491764

Terima kasih
Jesse Taslim

Picture by:Palagems and GIA.edu

Dilema pasar batumulia Indonesia

Memang salah satu sifat dari sebuah penemuan baru akan sebuah treatment pada batumulia adalah “rahasia”. Selama mungkin, memang jika masih tertutup, maka keuntungannya akan lebih banyak lagi yang didapat.

Namun ketika dunia mulai mengetahuinya, mereka (contohnya treater Thailand) tidak tinggal diam dan merenungi akan kebocoran hal ini. Mereka mulai merubah pola fikirnya, mereka mulai berganti strategi, bagaimana caranya, agar treatment baru ini bisa diterima oleh masyarakat dunia internasional pada umumnya.

Bukankah sebuah treatment biasanya dilakukan memang bertujuan untuk menstabilkan dan memperindah sebuah batumulia?

Contohnya Ruby yang memiliki banyak retakan, bisa ditutupi dengan treatment borax maupun glassfilled, Brown dan Green Sapphire dengan saturasi warna yang rendah bisa diperbaiki dengan treatment beryllium, Topaz putih yang menjadi biru dengan treatment radiasi, Opal berwarna pucat menjadi Black Opal dengan sugar dan smoke treatment, dan banyak lagi lainnya.

Sebenarnya kita tidak kalah oleh mereka, kita adalah yang pertama kali menemukan cara membuat Cat’s eye Chrysoberyl yang berwarna hijau menjadi Coklat dengan treatment radiasi, Agate dan jasper yang tidak bermotif bisa menjadi bermotif, Chrysocolla in Chalcedony yang katanya bisa dibuat lebih transparant, Agate yang bisa menghadirkan ‘fenomena’ atau Petrified Wood dan Boulder Opal kita yang katanya memang bisa diperindah dengan suatu treatment dan banyak lagi treatment lainnya.

Kita seharusnya bangga dengan apa yang kita temukan, bukankah sama dengan mereka?, Kita juga telah menemukan bagaimana caranya agar dapat menciptakan suatu batumulia yang kurang stabil dan kurang indah menjadi sebaliknya. Selama hal ini di tutupi, maka efeknya adalah kecurigaan antara penjual dan pembeli, domestik maupun Internasional.

Salah satu contoh terbaik adalah kota Chantaburi Thailand sebagai pusat treatment dunia. Ketika benua asia terkena krisis keuangan, mereka tidak begitu bermasalah dikarenakan banyak pembelinya yang datang dari negara-negara yang tidak terkena krisis karena, treatment-treatment yang sudah mereka ciptakan, pada akhirnya telah di terima oleh dunia Internasional. Bahkan kita menjadi salah satu negara konsumen terbesarnya. Mengapa glassfilled, berylium, coating, dyed, dan bahkan sintetik, imitasi, juga kaca buatan pabrik  mereka bisa kita terima, namun treatment yang kita ciptakan tidak/belum di terima oleh mereka sepenuhnya?, coba tanyakan pada diri kita sendiri, bukankah kejujuran itu menepis kecurigaan?, kapan mereka (pembeli luar negeri) akan merasa aman ketika berbelanja kepada kita, jika kita masih setengah-setengah dalam kejujuran ketika menjajakan batumulianya.

“Kejujuran produsen pasti  menghadirkan konsumen berkualitas”

Terima kasih
Jesse Taslim

Apa yang kita lihat dengan Handloupe

Apa yang kita lihat dengan Handloupe?

A.Menilai permukaan
Ketika mulai mempelajari permukaan dari sebuah Batumulia, maka hal ini bersangkutan dengan kualitas pemotongan atau pemolesannya.

Seperti yang kita lihat di permukaan, apakah mulus dan terlihat mengkilap?, ini adalah tanda sempurnanya sebuah pemotongan/pemolesan. Kita mungkin melihat adanya lubang kecil (pit) dan goresan. Jika hanya sedikit dan tidak terlihat dengan kasat mata, maka efek mengurangi kecemerlangan (Brilliant) juga tidak terlalu signifikan.

Andaikan mendapati banyaknya lubang-lubang kecil (berjumlah banyak) yang tidak terlihat dengan kasat mata di permukaan, maka hal ini ada efek terhadap kecemerlangannya. Awalnya efek ini tidak terlalu terlihat, tetapi ketika kita mensejajarkannya dengan batumulia lain yang memiliki permukaan yang mulus, maka efek kurangnya kecemerlangan, akan semakin terlihat.

Jika kita sulit memastikan sebuah tanda di batumulia itu berada di permukaan atau di dalamnya, maka rubahlah posisi batumulia sehingga cahaya memantul di permukaan. Ketika permukaan menjadi ‘kaca’, maka inklusi yang di dalam akan tidak terlihat lagi, sedangkan yang di permukaan akan terlihat jelas.

This slideshow requires JavaScript.

Selain inklusi yang berada di permukaan, hal lain yang harus kita perhatikan adalah kesempurnaan pemotongan/pemolesan itu sendiri. Dalam batumulia dengan pemotongan/pemolesan yang sempurna, maka akan memperlihatkan formasi yang baik dalam bentuk maupun ukuran yang sama dengan ujung siku-sikunya saling bertemu dengan tepat.

B. Girdle (‘pinggang’)
Untuk batumulia lainnya, memang jarang ditemukan girdle yang tidak terpoles. Sedangkan di berlian, para cutter memotong/memoles girdle dengan cara yang berbeda dengan batumulia lainnya dikarenakan kekerasan ekstrim yang dimilikinya. Di girdle ini, kita juga bisa menemukan nomor barcode berlian dan tentunya dengan sedikit latihan, kita bisa menentukan kualitas girdle di berlian, apakah poor? fair? good? very good? dan excelent?

This slideshow requires JavaScript.

C.Facet (potongan)
Untuk menilai sebuah kualitas pemotongan, maka yang dilihat adalah saling bertemunya ujung potongan, sudut tajam. Seluruh potongan harus berada di barisan yang sama dengan ukuran dan bentuk yang sama.

D.Culet (bagian paling akhir/bawah)
Lalu, balikkan batumulia anda secara terbalik dan lihatlah ke culet. Kadangkala Batumulia ditaruh bersamaan (lot) dalam sebuah bungkusan dan dapat mengakibatkan benturan maupun gesekan pada beberapa bagian, untuk Berlian biasanya terjadi di bagian paling bawah yang disebut dengan culet. Sekali lagi, jika tak terlihat tanpa perbesaran, ini tidak akan berdampak pada keindahan permata secara signifikan.

This slideshow requires JavaScript.

Sekarang kita dapat memahami pengaruhnya bagaimana kualitas sebuah pemotongan pada Batumulia. Sedikit ke-tidaksempurnaan masih bisa diterima, tapi pekerjaan pemotongan yang ceroboh sangat berpengaruh mengurangi keindahan.

This slideshow requires JavaScript.

Kesalahan kecil pada pemotongan yang tak terlihat dengan kasat mata, jika anda adalah seorang Gemologist pemula dan pelaku pasar pemula, menggunakan handloupe (10x) dapat membuat anda memberikan kesempatan pertama meng-apresiasi akan semua hal yang kita sebutkan diatas.

Terima kasih

Jesse Taslim

Skala kejernihan Batumulia

Sebenarnya, standarisasi gradasi kejernihan atau warna di batumulia (selain berlian) itu belum bersifat umum, tapi kita bisa mengikuti bagaimana cara mereka melakukan hal ini di berlian, walaupun kemungkinan terjadi perbedaan yang signifikan. Warna (color), clarity (kejernihan), cut (potongan), dan weight (berat) adalah faktor utama pada berlian, sedangkan di batumulia, warna merupakan faktor utama, penilaiannya bisa mencapai 60-70%, tentu tanpa melupakan faktor lainnya seperti tingkat kejernihan yang masih bisa di toleransikan pada batumulia, tapi tidak pada berlian.

Tingkat kejernihan juga merupakan suatu hal yang penting pada batumulia, tapi standarisasinya berbeda. Menerapkan standar gradasi kejernihan berlian pada batumulia adalah suatu kesalahan, dan dapat membuat kita banyak melewatkan batumulia yang bagus.

Standarisasi tingkat kejernihan pada batumulia itu tergantung tipe-tipenya. Sejak batumulia hadir dengan berbagai macam jenis, GIA (Gemological Institute of America) mengklasifikasikan batumulia dengan ‘type 1’, ‘type 2’, dan ‘type 3′.

Type 1-Batumulia pada tipe ini biasanya bebas dari inklusi. Kemungkinan pada kualitas terbaik dari tipe ini, kita hanya dapat menemukan inklusi kecil yang hanya terlihat dengan handloupe 10x. Jadi ketika menyeleksi batumulia pada tipe ini kita dapat mengharapkan hampir bersih dari inklusi di handloupe. Batumulia pada tipe ini adalah-Aquamarine, Morganite, Yellow Beryl, Chrysoberyl, Kunzite, Danburite, Smoky Quartz, Blue Topaz, Blue Zircon, White Zircon, and Tanzanite.

Type 2- Batumulia pada tipe ini bisa ditemukan inklusi tapi bisa terlihat bersih jika dengan kasat mata (eye clean). Batumulia pada tipe ini adalah- Apatite, Alexandrite, Corundum, Diopside, Fluorite, Garnet, Iolite, Peridot, Quartz (hampir keseluruhan variannya), Spinel, Tourmaline (hampir keseluruhan kecuali green, Rubellite, dan Watermelon) dan Natural Zircon (kecuali warna biru)

Type 3- Batumulia pada tipe ini selau ditemukan dengan inklusi yang signifikan, bahkan untuk kualitas yang tertingginya sekalipun. Batumulia pada tipe ini adalah-Emerald, Red Beryl, Idocrase, Kyanite, Prehnite, Sphalerite, Sphene, dan Tourmaline-Rubellite-Watermelon.

Beberapa dealer batumulia menggunakan istilah VVS dan VS untuk gradasi batumulianya. Dikarenakan ini adalah istilah yang bersangkutan dengan gradasi berlian, menurut kami hal ini tidak terlalu tepat dan juga dapat membingungkan pelanggan yang memang jarang dari mereka faham akan istilah-istilah ini. Cara yang terbaik adalah menggunakan cara  gradasi kejernihan sesuai fungsinya, dimana batumulia dinilai dengan-bisa terlihatnya inklusi dengan kasat mata atau dengan loupe (kaca pembesar) 10x. Kita bisa menggunakan istilah “loupe clean”, “almost loupe clean”, “eye clean’, very slightly included”, dan seterusnya.

Dan akhirnya, untuk Batumulia yang berbentuk cabochon di gradasi dengan terminologi yang berbeda, cara terbaik adalah dengan memberikan istilah-“transparent” (tembus cahaya) tidak terlihatnya inklusi, lalu “translucent” (tembus cahaya tapi tidak transparan) dan yang terakhir adalah “opaque” (tidak tembus cahaya sama sekali). Batumulia dengan tingkat kejernihan “translucent” contohnya seperti Chrysocolla in Chalcedony dan Chrysoprase dan “opaque” contohnya seperi Jasper, Shell, dan lainnya.

Faceted
IF-Loupe clean-Internally flawless; bebas dari inklusi.
VVS-Almost loupe clean-very, very slight inclusions; inklusi hampir tidak terlihat dengan pembesaran 10x.
VS-Eye clean-very slight inclusion; sedikit inklusi bisa terlihat dengan mata yang terlatih atau dengan pembesaran 10x.
SI-Slightly included-inklusi kecil dapat terlihat dengan kasat mata
I1-Included-inklusi terlihat dengan jelas

Cabochon
Tranparent-Tembus cahaya, bisa memiliki inklusi seperti rutile dan lainnya.
Translucent-Tembus cahaya tapi tidak transparan
Opaque-Tidak tembus cahaya sama sekali.

Terima kasih

Jesse Taslim

Treatment Polymer di Turquoise

This slideshow requires JavaScript.

Turquoise memang biasanya lahir dengan ‘rapuh’ dalam bentuk ‘nugget’ dengan pori-pori yang besar dan dengan tingkat kilau (lustre) di permukaan yang rendah. Untuk meningkatkan kestabilan, kekuatan (toughness) dan tingkat kemilau (lustre), maka treatment polymer impregnation biasa dilakukan. Sekitar 95% Turquoise yang beredar di dunia sudah melalui treatment ini sehingga bersifat common (lumrah) dan memang dilakukan ketika masih dalam bentuk bahan (rough).

Dengan cara menenggelamkannya di cairan polymer (disertai penekanan) dapat membuat cairan masuk di pori-pori, juga di kisi-kisi dalam serta meliputi seluruh permukaan sehingga terjadi adanya lapisan di permukaan yang dapat menguatkan, menstabilkan, serta menghadirkan tingkat kemilau di permukaan yang lebih baik, lalu cairan yang menutupi pori-pori dapat menahan kotoran yang menempel maupun masuknya cairan-cairan lain yang dapat mempengaruhi batu mulia ini, contohnya keringat tubuh kita.

Mendeteksi adanya polymer di Turquoise tidaklah terlalu sulit. Tingkat kilau (lustre) yang berbeda dengan aslinya dapat dipisahkan jika kita sudah terbiasa mempelajarinya. Begitu juga dengan bagian ‘matrix’ yang sejajar dengan bagian permukaan batu, dan dengan adanya lapisan polymer di permukaan, tentu tingkat kekerasan (hardness) di permukaan akan tergantikan menjadi hardness polymer.

Terima kasih

Jesse Taslim

Bulu Macan Surabaya (Natural Basaltic Glass)

024Basaltic Glass yang memiliki properti di refraktif indeks 1.55 +/- dengan berat jenis 2.60+/- dan kekerasan di 5.5 mohs scale ternyata tidak hanya terdapat di daerah Lumajang. Kota yang yang dikenal dengan sebutan kota pahlawan yaitu Surabaya ternyata juga memiliki konsentrasi deposit Basaltic Glass dan mereka memberikannya julukan “Bulu Macan Surabaya” yang disingkat menjadi BMS.
043 045

Karakter yang dimiliki BMS (Bulu Macan Surabaya) sedikit berbeda dengan yang di Lumajang. BMS memiliki warna dasar hitam dengan inklusi fibrous berwarna kekuningan/kecoklatan/keemasan.
r001 - 20160811_105516 11692703_978892112204720_7569853821575462375_n
Perbedaan karakter batumulia disetiap konsentrasi depositnya dikarenakan adanya perbedaan suhu, tekanan di tempat lahirnya bahkan bercampurnya “unsur asing” ketika proses pengkristalan terjadi.

 

001
Mr Mingmha Sherpa, one of our gemologist on location


Terima kasih
Jesse Taslim, G.G

Foto by: Jesse taslim, Muhammad A.G, Edo Tama Irawan, dan Novel Anjula
Thanks to: BMS team, mas Edo dan novel yang sudah mengantarkan gemolog kami ke TKP.

Advertisements

Batu Mulia dan Informasinya